Oleh: teatersundakiwari | November 5, 2009

Festival Drama Basa Sunda XI Tahun 2010

    • Dasar Pemikiran

      Dalam upaya menyiasati arus zaman yang kian hari kian terasa menjauh dari akar budaya bangsa kita khususnya kebudayaan daerah (Jawa Barat).

      Teater Sunda Kiwari telah mengabdikan dirinya dalam kehidupan seni dan budaya di Jawa Barat selama 34 tahun. Selama itu pula kami telah berupaya mengangkat akar tradisi sebagai pegangan nilai-nilai dalam mengolah setiap pertunjukan yang digelarnya selama ini.

      Teater Sunda Kiwari telah berusaha membina, memelihara, melestarikan dan mengembangkan Seni Drama berbahasa daerah (Sunda), melalui kegiatan Festival Drama Basa Sunda.

      Festival Drama Basa Sunda (FDBS) ini sudah berlangsung sejak tahun 1990 sebanyak 10 (sepuluh) kali yaitu pada :

      1. FDBS I ( 21 – 24 Februari 1990 ) dengan jumlah peserta 18 group.
      2. FDBS II ( 3 – 8 Agustus 1992 ) dengan jumlah peserta 21 group.
      3. FDBS III ( 18 – 24 Juli 1994 ) dengan jumlah peserta 22 group.
      4. FDBS IV ( 8 – 16 Agustus 1996 ) dengan jumlah peserta 24 group.
      5. FDBS V ( 4 – 10 Mei 1998 ) dengan jumlah peserta 24 group.
      6. FDBS VI ( 17 – 23 Januari 2000 ) dengan jumlah peserta 29 group.
      7. FDBS VII ( 25 Februari – 5 Maret 2002 ) dengan jumlah peserta 33 group.
      8. FDBS VIII ( 16 – 23 Februari 2004 ) dengan jumlah peserta 40 group.
      9. FDBS IX ( 13 – 24 Februari 2006 ) dengan jumlah peserta 52 group.
      10. FDBS X ( 11 Februari – 1 Maret 2008 ) dengan jumlah peserta 74 group.

      Seni drama sebagai salah satu bentuk seni yang boleh dibilang kongkret dan juga merupakan salah satu bentuk kegiatan yang perlu mendapat pertimbangan, serta dukungan dari berbagai elemen masyarakat.

      • Bentuk Kegiatan

      Bentuk Kegiatan ini adalah : Festival Drama Basa Sunda XI

      Naskah : Disesuaikan dengan cerita yang berkembang di daerah (Sunda) agar diterima oleh masyarakat dengan menitik-beratkan pada segi hiburan.

      Thema  : Menanamkan Pemahaman akan kandungan butir-butir Pancasila pada masyarakat.

      Sasaran : Kelompok / Group Teater dan Masyarakat umum yang memiliki kepedulian akan seni dan budaya ( Jawa Barat )

      • Teknis Pelaksanan

      Waktu dan Tempat Pendaftaran :

      a. Pendaftaran dimulai tanggal 1 November 2009 s/d 14 Februari 2010.

      b. Tempat pendaftaran : Gedung Kesenian Rumentang Siang

      Jl. Baranangsiang No. 1 Tlp. 022 – 4233562

      Mulai pukul 09.00 – 15.00 WIB (hari Minggu libur)

      Waktu dan Tempat Pelaksanaan

      Festival Drama Basa Sunda XI ini akan diselenggarakan pada tanggal 23 Februari s/d 23 Maret 2010 bertempat di Gedung Kesenian Rumentang Siang.

      • Ketentuan Peserta

      Peserta

      • Festival Drama Basa Sunda XI ini bersifat umum untuk semua lapisan masyarakat di seluruh wilayah. Setiap peserta dari Kabupaten / Kota bisa mengirimkan peserta / grupnya sebanyak mungkin.
      • Peserta Festival Drama Basa Sunda IX telah memenuhi semua persyaratan yang telah ditentukan oleh panitia, antara lain :
      1. Peserta telah mendaftarkan diri dan mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan oleh panitia,
      2. Telah melaksanakan pembayaran administrasi sebesar Rp. 200.000,- (Dua Ratus Ribu Rupiah).
      3. Selama peserta berada di lokasi Festival tidak disediakan akomodasi / penginapan.

      Naskah

      Setiap peserta mendapatkan 7 (tujuh) buah naskah yang telah disediakan panitia :

      1. Sadrah karya : Nunu Nazaruddin Azhar
      2. Kembang Gadung karya : Dipa Galuh Purba
      3. Génjlong Karaton karya : Dian Hendrayana
      4. Meredong “Ke” karya : Yudhistira ANM Massardi Saduran : Rosyid E. Abby
      5. Kawin Ucing karya : Arthur S. Nalan
      6. Bandéra! Bandéra! Bandéra! karya : Toni Lesmana
      7. Cukang karya : Dadan Sutisna
      • Dasar Penilaian
      1. Pementasan,
      2. Penyutradaraan,
      3. Aktor dan Aktris,
      4. Artistik,
      5. Musik.
      Oleh: teatersundakiwari | Februari 14, 2009

      Minim, Penulis Naskah Drama Sunda

      ilustrasi menulis naskah

      ilustrasi menulis naskah

      BANDUNG, JUMAT–Penulis naskah drama berbahasa Sunda ditantang membuat karya baru yang sesuai dengan pengalaman hidup masyarakat Indonesia dan Jawa Barat saat ini. Saat ini, kebanyakan naskah drama Sunda merupakan karya lama dan sering kali tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat. Demikian dikatakan penulis naskah drama Sunda, Hidayat Suryalaga, seusai menyaksikan pementasan drama yang diambil dari naskah ciptaannya, Tambang Tambang Tambang 2009, di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Kota Bandung, Rabu (11/2) malam. Pentas drama ini dibawakan Teater Sunda Kiwari dengan sutradara Dadi Danusubrata. Pentas digelar dalam peringatan ulang tahun ke-68 Hidayat Suryalaga. Menurut Hidayat, saat ini sebagian besar pementasan drama Sunda masih menggunakan naskah lama. Konteks cerita sering tidak sesuai dengan kondisi masyarakat kini. Hal ini, menurut dia, sangat memprihatinkan karena sebenarnya banyak permasalahan sosial masyarakat yang bisa diangkat. Oleh karena itu, ia mengajak penulis Sunda berusia muda mengasah kreativitas membuat naskah drama Sunda. Ia yakin, dengan visi dan kepekaan pada lingkungan sekitar, tidak sulit membuat naskah baru yang relevan dan sesuai dengan usia penulis. “Selain menghasilkan karya pementasan drama, munculnya banyak pilihan cerita bisa memperkaya dan melestarikan khazanah sastra Sunda,” katanya. Menurut Dadi Danusubrata, berkurangnya minat penulis naskah drama Sunda disebabkan jarangnya pementasan drama Sunda. Hal ini membuat penulis enggan membuat karya baru karena pesimistis naskahnya bisa dipentaskan. Selain itu, kini banyak penulis muda yang cenderung memilih membuat naskah sinetron atau menulis cerpen. Selain relatif bernilai ekonomi, pembuatannya pun lebih mudah menyesuaikan dengan minat masyarakat. “Harus diakui, membuat naskah drama Sunda tidak mudah. Dalam drama, konsep apresiatif yang dimiliki naskah harus kuat. Pementasan drama hanya dilakukan di satu panggung dengan dekorasi seadanya dan tidak ada istilah bersambung,” katanya. Hal yang sama dikatakan Pupuhu Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda Etti RS. Menurut dia, minimnya pementasan drama membuat banyak penulis naskah Sunda semakin sedikit. Penulis naskah mengerti, dana yang harus dikeluarkan untuk sekali pementasan sangat besar. Setidaknya dalam satu kali pementasan harus dikeluarkan Rp 10 juta. “Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mendorong semua pihak untuk mendukung atau menggelar perlombaan penulisan naskah Sunda. Setidaknya menarik minat penulis naskah untuk kembali berkarya, katanya. (CHE)

      Sumber : Kompas Cetak

      Jumat, 13 Februari 2009 | 19:36 WIB

      Tulisan Sebelumnya »

      Kategori