RSS

Drama “Budah Si Narko”

Poster Budah si Narko

Dampak negatif dari arus globalisasi yang terlihat miris adalah perubahan yang cenderung mengarah pada krisis moral dan akhlak, sehingga menimbulkan sejumlah permasalahan kompleks melanda negeri ini salah satunya adalah dengan meningkatnya tindakan kriminalitas dan penyimpangan yang dilakukan sebagian para pelajar kita sekarang ini.

Kebiasaan anak jaman sekarang yang biasa kita lihat adalah terjadinya tawuran antar sekolah, konflik antar anak sekolah yang mengakibatkan perkelahian dan pembunuhan, kenakalan remaja yang berlebihan, siswa-siswi yang dianggap tidak sopan, tidak bertanggung jawab terhadap tindakannya, juga banyak siswa sekolah (pelajar) yang menjadi korban narkoba. Bahkan kebiasaan tawuran pun sekarang menjadi budaya, tak jarang dari mereka melakukan tawuran hanya untuk membuat sensasi, onar, dan kisruh tanpa alasan dan masalah yang jelas. Kenakalan remaja seperti free sex, pergaulan bebas, dan pemakaian narkoba sudah menjalar hingga ke pelosok desa.

Menyikapi kondisi yang telah disebutkan diatas, sangat diperlukan suatu bentuk dan tindakan nyata yang berkelanjutan serta berkesinambungan dari semua pihak, salah satunya ialah yang dilakukan oleh Teater Sunda Kiwari dengan mementaskan drama :

“Budah Si Narko”

Naskah : Dadan Sutisna

Sutrdara : HR. Dadi P. Danusubrata

Hari / Tanggal               : Jum’at, 22 Agustus 2014
Waktu                         : 19.30 WIB
Tempat                        : Gedung Padepokan Seni Mayang Sunda Jalan Peta (Lingkar Selatan) No.209 Bandung.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Agustus 2014 in Uncategorized

 

Tag:

Teater Dongkrak Juara Festival Drama Sunda XIII 2014

teater dongkrakTEMPO.CO, Bandung - Dewan juri menobatkan Teater Dongkrak sebagai Juara Umum Festival Drama Basa Sunda XIII 2014 di Bandung yang dihelat kelompok Teater Sunda Kiwari. Memainkan lakon berjudul Di Hiji Tempat Nu Biasa karya Nazarudin Azhar, gelar kampiun ini mereka raih kembali setelah menunggu selama dua dekade atau sejak mendapat piala bergilir festival pada 1994.

Selain juara umum, awak Teater Dongkrak juga mendapat tiga penghargaan. “Artistik terbaik untuk Yudi Carmed, sutradara terbaik Jabo Widianto, dan Deden sebagai penata musik terbaik,” kata panitia festival, Dodi Eka Pratama, Senin, 5 Mei 2014. Juara kedua diraih kelompok teater Komunitas Seni Sastra Indonesia (KSSI) dari Kota Cimahi, dan Teater Lakon sebagai juara ketiga.

Dewan juri yang terdiri dari Godi Suwarna, Bambang Aryana, dan Rahman Sabur juga memilih Yoke Darisman dari Teater Getih sebagai aktor terbaik, dan Siti Aisyah dari Teater Lises Citraresmi sebagai aktris terbaik. Para pemenang mendapatkan hadiah berupa piala dan piagam penghargaan.

Festival yang digelar rutin dua tahun sekali itu berlangsung sejak 14 April hingga 4 Mei 2014 itu diikuti 61 kelompok teater dari berbagai daerah. Sejak dirintis 26 tahun silam, para kampiun festival tersebut yakni Teater Bina Budaya Cianjur pada 1990, Teater Sembada Bandung (1992), Teater Dongkrak Tasikmalaya (1994), Teater Serang Banten (1996), dan Teater Lorong Subang yang sudah empat kali juara umum pada 1998, 2000, 2004, dan 2012. Selain itu, Teater Citra Resmi dari kampus Universitas Winaya Mukti, Sumedang (2002); Teater Tarian Mahesa, Bandung (2008); dan Teater Tarian Mahesa, Ciamis (2010).

ANWAR SISWADI

 

Tag:

“Wilujeng Tandang”

Design Poster FDBS XIII photo

Jadwal Midang Patandang Festival Drama Basa Sunda XIII fix

 
 

Drama “Tanjeur Pajajaran”

cover tanjeur pajajaran

Sinopsis :

TANJEUR PAJAJARAN

Raja Pajajaran anu pamungkas (anu ka VI) nyaéta Prabu Raga Mulya (1567 – 1579) atawa nu kasohorna mah Prabu Suryakancana. Dina kaayaan puseur dayeuh Pakuan nu geus surem, Prabu Suryakancana henteu ngadiukan tahta pamarentahanana di dayeuh Pakuan , tapi di dayeuh Pulasari Pandeglang, sedengkeun dayeuh di puseur dayeuh Pakuan pamarentahanana dipasrahkeun ka Opat urang sénapati sadudulur anu tetep satia ka Pajajaran, nyaéta Jayaprakosa, Adipati Wiradijaya, Kondang Hapa, jeung Pancar Buana.

Carita dimimitian sawaktu opat pangagung Pajajaran (Jayaprakosa, Wiradijaya, Kondang Hapa, Pancar Buana) ngadeuheus Prabu Suryakancana di Pulasari Pandeglang, rék masrahkeun makuta lambang kaagungan Pajajaran. Sabot kitu karajaan Surasowan Banten bagerak ngagempur Pulasari.

Dayeuh Pulasari jeung Pakuan karebut ku Banten. Prabu Suryakancana wafat taun 1579, sedengkeun Jayaprakosa, Wiradijaya, Kondang Hapa, Pancar Buana marubus ka leuweung nu satuluyna ngajugjug Sumedanglarang sarta babakti ka Prabu Geusan Ulun Raja Sumedanglarang.

Raja-raja Pajajaran :

  1. Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) : 1482 – 1521
  2. Prabu Surawisesa : 1521 – 1535
  3. Prabu Dewata Buana : 1535 – 1543
  4. Prabu Ratu Sakti : 1543 – 1551
  5. Prabu Nilakendra : 1551 – 1567
  6. Prabu Suryakancana : 1567 – 1579

Sinopsis

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 2 April 2014 in Pementasan

 

Tag:

Gambar

Festival Drama Basa Sunda – XIII Tahun 2014

cover FDBS XIII

Masa yang terbilang panjang untuk mengelola suatu perkumpulan yang tetap konsisten terhadap tujuannya, yakni idealisme menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya ( Sunda ) melalui media teater, Teater Sunda Kiwari berikhtiar melakukan upaya dalam pelestarian nilai-nilai kesundaan melalui kegiatan Festival Drama Basa Sunda ( FDBS ) yang dimana telah berlangsung sejak tahun 1990 hingga sekarang sebanyak 14 kali dengan kategori untuk umum 12 kali dan untuk Pelajar 2 kali, pada tahun 2014 kami akan menyelenggarakan kembali Festival Drama Basa Sunda – XIII.

Sejak tahun 2011 Festival Drama Basa Sunda dibagi menjadi 2 kategori yaitu Umum dan Pelajar mengingat semakin banyaknya peminat dari setiap golongannya.

Update Informasi, Calon Patandang FDBS XIII yang sudah mendaftar :

  1. Teater Tarian Mahesa (TTM-C) Kab. Ciamis
  2. Posstheatron Kab. Garut
  3. Komunitas Seni Sasta STKIP Siliwangi Kota Cimahi
  4. Komunitas Seni Teater STMIK Mardira Kota Bandung
  5. Garnida STKS Kota Bandung
  6. LISES Citraresmi UNWIM Kab. Sumedang
  7. Pesan Tren CIPOK Kab. Majalengka
  8. STKIP Muhammadiyah Kab. Kuningan
  9. TEPAS Unpad Kab. Sumedang
  10. Teater Obor Kota Bandung
  11. Bentang Pusaka Bandung Kab. Bandung
  12. Campernik Kota Cimahi
  13. Teater Smile Kab. Bandung
  14. Lorong Teater Kab. Subang
  15. Teater Mercusuar Kab. Bandung
  16. STUDI Teater UNISBA Kota Bandung
  17. Teater Penus Kab. Subang
  18. Teater Awal Bandung Kota Bandung
  19. Teater Kabut Kota Cimahi
  20. Teater 13 Senja Kota Cimahi
  21. Teater Lumbung Kab. Karawang
  22. Bumi Sandiwara Kota Sukabumi
  23. Teater Nusantara 32 Kota Bandung
  24. Teater Handeuleum Kab. Bandung
  25. Teater Patih Bandung Kota Bandung
  26. Doremi Kota Cimahi
  27. Teater Keung STIEPAR YAPARI AKTRIPA Kota Bandung
  28. GSSTF Unpad Kab. Sumedang
  29. Teater Qubbah 9 Kota Cimahi
  30. Teater Sangkala Kab. Cianjur
  31. Teater Kress Kab. Bandung
  32. Teater Baraya Kota Bandung
  33. Teater Polos Kab. Tasikmalaya
  34. Teater Djati Kab. Sumedang
  35. Teater Uzlah Kab. Garut
  36. Teater pecut dapur Sastra UNIKU Kab Kuningan
  37. Teater Gabung Unsika Karawang
  38. Sate Sapi STKIP Sebelas April Sumedang
  39. Teater Lakon UPI Bandung
  40. Sambada UPI Bandung
  41. Asta Waditra Kota Cimahi
  42. Teater Senapati Kota Bandung
  43. Teater Tari Kab. Indramayu
  44. Sanggar 10 Kab. Bandung
  45. Teater Lisema Bandung
  46. Teater KLOP Kota Cimahi
  47. Lorong Teater B Kab. Subang
  48. Teater Manggala STT Al Musadaddiyah Kab. Garut
  49. Teater Sigma Kab. Garut
  50. Sanggar Seni Bambu Indah Karawang
  51. Teater Hiji Kab. Bandung Barat
  52. Teater Lumut Bandung
  53. Cast 7 Kota Bandung
  54. Koppaster Kota Tasikmalaya
  55. Teater Dongkrak Kota Tasikmalaya
  56. Teater Coret Besik’s Unwir Indramayu
  57. Theroris-C- 13 Kota Bandung
  58. Teater Adji Kanik Barau Sanifah Kab. Berau Prov Kalimantan Timur
  59. Sanggar Widuri Kota Bandung.
  60. Teater Jebleh Kota Tasikmalaya.
  61. Teater Koin Kabupaten Bandung.
  62. Teater Getih Kota Bandung.
  63. Teater 3 Smoet Kabupaten Purwakarta.

Ditunggu pendaftar dari group-group Teater yang lain..Nuhun.

berikut lampiran pedoman FDBS-XIII tahun 2014.

silakan download : PEDOMAN FDBS XIII

 

Tag:

Gambar

Pagelaran Sandiwara Rakyat “Harewos Goib”

Poster Publikasi

Poster Publikasi

Diantosan kana kasumpinganana, hatur nuhun.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2014 in Pementasan

 

Tag:

Festival Drama Basa Sunda XII diikuti 57 kelompok teater

 

Poster FDBS XIIFestival Drama Basa Sunda yang diselenggarakan Teater Sunda Kiwari, Bandung, tampaknya menjadi satu-satunya festival teater berbahasa daerah yang mampu bertahan dalam kurun waktu yang panjang di negeri ini. Bahkan dengan catatan, acara ini digelar tanpa kepedulian pemerintah.

Festival Drama Basa Sunda (FDBS) ini sudah berlangsung sejak tahun 1990, dan tahun ini adalah penyelenggaraan yang ke-12. Dilangsungkan sejak Senin (12/3) hingga Jumat (30/3) mendatang, di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jl. Baranang Siang No. 1, Kosambi, Bandung. FDBS XII diikuti 56 kelompok teater dari 26 Kota dan Kabupaten se-Jabar, serta DKI Jakarta dan Banten.

Awalnya, FDBS dilaksanakan dua tahun sekali, dengan peserta yang terus meningkat jumlahnya. Tahun 2010 lalu, jumlah peserta mencapai 76 kelompok teater karena antara peserta umum dan pelajar disatukan, dan mulai 2011 lalu peserta dipisahkan dengan diselenggarakan FDBS tingkat pelajar yang diikuti 47 kelompok dan tahun ini khusus untuk peserta umum.

Dadi P. Danusubrata, Ketua Teater Sunda Kiwari mengatakan, penyelenggaraan FDBS dipisah untuk pelajar dan umum, selain karena ada permintaan dari peserta dan dewan juri, juga agar dalam FDBS ini persaingan peserta henteu ganjor, karena para pelajar harus bersaing dengan kelompok teater yang sudah senior. “Tapi tidak tertutup kemungkinan ada pelajar yang ikut dengan mengatasnamakan kelompok bukan sekolah di FDBS untuk kelompok umum ini,” ujar Dadi.

Tak pelak, FDBS ini telah menjadi hajat tahunan para awak teater dari berbagai daerah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta. Bahkan dalam penyelenggaraan sebelumnya, sempat ada peserta yang datang dari sebuah perguruan tinggi di Jogjakarta. Mereka berkompetisi dengan sehat, menghadirkan garapan panggung dalam lakon berbahasa Sunda. Banyak kalangan seniman dan budayawan Sunda yang mengganggap garapan FDBS ini sebagai suatu upaya mengakrabkan generasi muda pada Bahasa Sunda dengan cara yang kreatif.

“Festival ini akan terus diadakan untuk melestarikan bahasa Sunda di kalangan generasi muda,” ujar Moel Mge, penasehat teknis Teater Sunda Kiwari sekaligus kepala urusan persiapan pementasan di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Selasa (6/3). Moel berharap, festival ini dapat menggambarkan kekayaan bahasa Sunda tiap daerah. Di samping itu juga menambah pengetahuan dan kosakata bahasa Sunda penonton yang sebagian besar adalah generasi muda.

Hal senada juga dikatakan oleh Dadi P. Danusubrata. “Teater merupakan salah satu media efektif dalam usaha melestarikan bahasa dan memperkenalkan budaya dimana para pemain secara otomatis mempelajari sejarah kebudayaan, tradisi, alat, dan jenis kesenian, serta hal lainnya,” terang Dadi.
FDBS ini sendiri, menurut Dadi, diselenggarakan dengan modal semangat, ditambah dengan sumbangan para donatur yang peduli pada keberlangsungan seni dan budaya Sunda. Pemerintah sendiri seperti menutup mata pada acara potensial ini. Pada penyelenggaraan sebelumnya, panitia harus selalu bergerilya mencari dana untuk membiayai festival ini, tanpa bantuan pemerintah. Baru pada penyelenggaraan FDBS XII ini, ada bantuan dari Gubernur, berupa uang penyelenggaraan sebesar Rp 44 juta serta uang pembinaan bagi pemenang.

Pada acara pembukaan FDBS XII Senin lalu, Gubernur sendiri yang dijadwalkan hadir, ternyata tidak bisa datang karena ada acara lain. “Ini menunjukan ketidakkonsistenan pemerintah yang katanya mendukung setiap kegiatan dan upaya pelestarian seni budaya, buktinya hanya sekedar untuk menghadiri saja tidak mampu,” ujar sastrawan Godi Suwarna, yang menjadi juri FDBS, mengomentari ketidakhadiran H. Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat.

Bagi Dadi, ketidakhadiran Gubernur tak dianggapnya masalah. “Karena sejak awal kami menyelenggarakan (FDBS) tujuannya, yakni idealisme menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya (Sunda) melalui media teater. Teater Sunda Kiwari berikhtiar melakukan upaya pelestarian nilai-nilai kesundaan,” ujar Dadi.

Pada FDBS XII, para peserta memilih salah satu dari empat naskah yang disediakan panitia. Yakni, naskah “Satru” karya Nazarudin Azhar, “Pajaratan Cinta” karya Dhipa Galuh Purba, “Kawin Ucing” karya Arthur S. Nalan, dan “Nagara Angar” karya Dadan Sutisna. (E-14/KP/Prlm)***

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.