RSS

“Wilujeng Tandang”

Design Poster FDBS XIII photo

Jadwal Midang Patandang Festival Drama Basa Sunda XIII fix

 
 

Drama “Tanjeur Pajajaran”

cover tanjeur pajajaran

Sinopsis :

TANJEUR PAJAJARAN

Raja Pajajaran anu pamungkas (anu ka VI) nyaéta Prabu Raga Mulya (1567 – 1579) atawa nu kasohorna mah Prabu Suryakancana. Dina kaayaan puseur dayeuh Pakuan nu geus surem, Prabu Suryakancana henteu ngadiukan tahta pamarentahanana di dayeuh Pakuan , tapi di dayeuh Pulasari Pandeglang, sedengkeun dayeuh di puseur dayeuh Pakuan pamarentahanana dipasrahkeun ka Opat urang sénapati sadudulur anu tetep satia ka Pajajaran, nyaéta Jayaprakosa, Adipati Wiradijaya, Kondang Hapa, jeung Pancar Buana.

Carita dimimitian sawaktu opat pangagung Pajajaran (Jayaprakosa, Wiradijaya, Kondang Hapa, Pancar Buana) ngadeuheus Prabu Suryakancana di Pulasari Pandeglang, rék masrahkeun makuta lambang kaagungan Pajajaran. Sabot kitu karajaan Surasowan Banten bagerak ngagempur Pulasari.

Dayeuh Pulasari jeung Pakuan karebut ku Banten. Prabu Suryakancana wafat taun 1579, sedengkeun Jayaprakosa, Wiradijaya, Kondang Hapa, Pancar Buana marubus ka leuweung nu satuluyna ngajugjug Sumedanglarang sarta babakti ka Prabu Geusan Ulun Raja Sumedanglarang.

Raja-raja Pajajaran :

  1. Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) : 1482 – 1521
  2. Prabu Surawisesa : 1521 – 1535
  3. Prabu Dewata Buana : 1535 – 1543
  4. Prabu Ratu Sakti : 1543 – 1551
  5. Prabu Nilakendra : 1551 – 1567
  6. Prabu Suryakancana : 1567 – 1579

Sinopsis

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 2 April 2014 in Pementasan

 

Tag:

Gambar

Festival Drama Basa Sunda – XIII Tahun 2014

cover FDBS XIII

Masa yang terbilang panjang untuk mengelola suatu perkumpulan yang tetap konsisten terhadap tujuannya, yakni idealisme menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya ( Sunda ) melalui media teater, Teater Sunda Kiwari berikhtiar melakukan upaya dalam pelestarian nilai-nilai kesundaan melalui kegiatan Festival Drama Basa Sunda ( FDBS ) yang dimana telah berlangsung sejak tahun 1990 hingga sekarang sebanyak 14 kali dengan kategori untuk umum 12 kali dan untuk Pelajar 2 kali, pada tahun 2014 kami akan menyelenggarakan kembali Festival Drama Basa Sunda – XIII.

Sejak tahun 2011 Festival Drama Basa Sunda dibagi menjadi 2 kategori yaitu Umum dan Pelajar mengingat semakin banyaknya peminat dari setiap golongannya.

Update Informasi, Calon Patandang FDBS XIII yang sudah mendaftar :

  1. Teater Tarian Mahesa (TTM-C) Kab. Ciamis
  2. Posstheatron Kab. Garut
  3. Komunitas Seni Sasta STKIP Siliwangi Kota Cimahi
  4. Komunitas Seni Teater STMIK Mardira Kota Bandung
  5. Garnida STKS Kota Bandung
  6. LISES Citraresmi UNWIM Kab. Sumedang
  7. Pesan Tren CIPOK Kab. Majalengka
  8. STKIP Muhammadiyah Kab. Kuningan
  9. TEPAS Unpad Kab. Sumedang
  10. Teater Obor Kota Bandung
  11. Bentang Pusaka Bandung Kab. Bandung
  12. Campernik Kota Cimahi
  13. Teater Smile Kab. Bandung
  14. Lorong Teater Kab. Subang
  15. Teater Mercusuar Kab. Bandung
  16. STUDI Teater UNISBA Kota Bandung
  17. Teater Penus Kab. Subang
  18. Teater Awal Bandung Kota Bandung
  19. Teater Kabut Kota Cimahi
  20. Teater 13 Senja Kota Cimahi
  21. Teater Lumbung Kab. Karawang
  22. Bumi Sandiwara Kota Sukabumi
  23. Teater Nusantara 32 Kota Bandung
  24. Teater Handeuleum Kab. Bandung
  25. Teater Patih Bandung Kota Bandung
  26. Doremi Kota Cimahi
  27. Teater Keung STIEPAR YAPARI AKTRIPA Kota Bandung
  28. GSSTF Unpad Kab. Sumedang
  29. Teater Qubbah 9 Kota Cimahi
  30. Teater Sangkala Kab. Cianjur
  31. Teater Kress Kab. Bandung
  32. Teater Baraya Kota Bandung
  33. Teater Polos Kab. Tasikmalaya
  34. Teater Djati Kab. Sumedang
  35. Teater Uzlah Kab. Garut
  36. Teater pecut dapur Sastra UNIKU Kab Kuningan
  37. Teater Gabung Unsika Karawang
  38. Sate Sapi STKIP Sebelas April Sumedang
  39. Teater Lakon UPI Bandung
  40. Sambada UPI Bandung
  41. Asta Waditra Kota Cimahi
  42. Teater Senapati Kota Bandung
  43. Teater Tari Kab. Indramayu
  44. Sanggar 10 Kab. Bandung
  45. Teater Lisema Bandung
  46. Teater KLOP Kota Cimahi
  47. Lorong Teater B Kab. Subang
  48. Teater Manggala STT Al Musadaddiyah Kab. Garut
  49. Teater Sigma Kab. Garut
  50. Sanggar Seni Bambu Indah Karawang
  51. Teater Hiji Kab. Bandung Barat
  52. Teater Lumut Bandung
  53. Cast 7 Kota Bandung
  54. Koppaster Kota Tasikmalaya
  55. Teater Dongkrak Kota Tasikmalaya
  56. Teater Coret Besik’s Unwir Indramayu
  57. Theroris-C- 13 Kota Bandung
  58. Teater Adji Kanik Barau Sanifah Kab. Berau Prov Kalimantan Timur
  59. Sanggar Widuri Kota Bandung.
  60. Teater Jebleh Kota Tasikmalaya.
  61. Teater Koin Kabupaten Bandung.
  62. Teater Getih Kota Bandung.
  63. Teater 3 Smoet Kabupaten Purwakarta.

Ditunggu pendaftar dari group-group Teater yang lain..Nuhun.

berikut lampiran pedoman FDBS-XIII tahun 2014.

silakan download : PEDOMAN FDBS XIII

 

Tag:

Gambar

Pagelaran Sandiwara Rakyat “Harewos Goib”

Poster Publikasi

Poster Publikasi

Diantosan kana kasumpinganana, hatur nuhun.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 19 Januari 2014 in Pementasan

 

Tag:

Kekayaan Bahasa Sunda Sangat Diminati Anak Muda Saat Ini

Festival Drama Basa Sunda Pelajar
Kusnaedi: Kekayaan Bahasa Sunda Sangat Diminati Anak Muda Saat Ini

Jumat, 11/02/2011 – 17:29

KELOMPOK Seni Pertunjukan SMK Pasundan 1 Bandung tampil di “Festival Drama Basa Sunda Pelajar” (FDBSP), bertempat di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang No. 1 Kosambi Bandung, pada hari ke lima (Jumat,11/2) membawakan naskah “Seksa” karya Dhipa Galuh Purba*

BANDUNG, (PRLM).- Kekayaan bahasa Sunda bukan hanya dari raga kata maupun ungkapan, tetapi juga dialek ataupun cara mengungkapkan. Kekayaan ini merupakan potensi yang sebenarnya sangat diminati oleh anak-anak saat ini yang cenderung menyukai akan hal-hal baru.

“Namun terhadap potensi bahasa Sunda di kalangan anak-anak tersebut tidak ditangkap oleh para pendidik. Karena ada kecenderungan para pendidik lebih terfokus pada buku teks yang menjadi pedoman bahan ajaran,” ujar Kusnaedi, pendidik yang juga budayawan Sunda, di sela-sela pelaksanaan “Festival Drama Basa Sunda Pelajar” (FDBSP) Jumat (11/2) bertempat di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang No. 1 Kosambi Bandung.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kusnaedi, melihat kondisi kekinian yang sedang terjadi di kalangan anak-anak. Bahasa pergaulan yang dipergunakan cenderung bahasa Sunda campuran berupa bahasa Sunda dengan bahasa Indonesia (bahasa nasional, dengan penyampaian ala bahasa pergaulan).

“Padahal kalau diarahkan secara baik dan benar seperti halnya melalui kegiatan main teater ataupun drama seperti yang diikuti oleh para pelajar di festival (FDBSP) sekarang ini, bahasa Sunda yang dipergunakan meski merupakan bahasa pergaulan tapi tidak bercampur baur dengan bahasa nasional (bahasa Indonesia),” ujar Kusnaedi.

FDBSP 2011 yang diselenggarakan Teater Sunda Kiwari bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, serta Pikiran Rakyat, Jumat, 11/2) memasuki hari ke lima. Tampil kelompok teaterKelompok Seni Pertunjukan SMK Pasunda 1 Bandung membawakan naskah “Seksa” karya Dhipa Galuh Purba, Teater Lumut SMAN 24 Bandung dan Kelompok Teater Beas SMA Pasundan 8 Bandung, keduanya membawakan naskah “Nu Jaradi Korban”, karya (Alm) R. Hidayat Suryalaga,. (A-87/das)***

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 14 Februari 2011 in Festival Drama Basa Sunda Pelajar

 

300 Pelajar dan Mahasiswa Padati GK Rumentang Siang

BANDUNG, TRIBUN - Sekitar 300-an pelajar dan mahasiswa pencinta teater sudah memadati Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang No 1, Minggu (16/1).

Mereka berniat menyaksikan pergelaran teater dengan lakon Djendral Debel Noe Debill karya HR Hidayat Suryalaga (Alm) dengan sutradara R Dadi P Danusubrata dan dimainkan oleh kelompok Teater Sunda Kiwari (TSK).

Pergelaran yang digelar sehari itu  hanya dipertunjukkan dua kali, pukul 15.30 dan 19.00. Untuk pukul 15.30 kata Dadi sang sutradara sekaligus Ketua TSK, akan dipenuhi penonton dari kalangan pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum.

Sedangkan pergelaran yang digelar malam akan disaksikan oleh masyarakat umum dan undangan para tokoh budaya dan pejabat pemerintahan.

“Saya tidak hapal siapa saja yang diundang. Tapi mudah-mudahan mereka bisa datang,” katanya.

Pementasan teater yang menggunakan tiket Rp 15 ribu itu banyak diminati oleh pelajar dan mahasiswa. Saat ini pergelaran pertama baru dimulai.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2011 in Pementasan

 

Tag: ,

Djendral Debel Noe Debil Bentuk Kekesalan Hidayat

Ieu naskah keur Teater Sunda Kiwari.
Muga-muga lain naskah drama anu pamungkas.
Ma’lum awak geus mimiti impeu.
Jadi tanda kadeudeuh oge ka Ki Sunda anu keur jadi kicimpring.
Disaremplekeun.

UNTAIAN kalimat di atas merupakan pesan atau catatan yang dituliskan RH Hidayat Suryalaga di akhir naskah drama Sunda karyanya yang berjudul Djendral Debel Noe Debil. Catatan seperti itu memang selalu dituangkannya pada setiap naskah drama karya. Namun pada naskah itu mulai ada pernyataan yang mengharapkan bukan sebagai naskah drama terakhir.

Naskah itu pun diberikan kepada Teater Sunda Kiwari (TSK) pada November 2010 dengan harapan bisa segera dipentaskan. Saat itu juga TSK merencanakan dan menyiapkan latihan untuk mementaskannya pada 25 Desember 2010. Namun dalam proses persiapannya, TSK menilai belum siap untuk dipentaskan pada 25 Desember 2010. Pementasan itu pun dimundurkan menjadi 16 Januari 2011, yang bertepatan dengan ulang tahun Teater Sunda Kiwari, yang bersamaan pula dengan tanggal kelahiran Hidayat Suryalaga.

“Tapi Yang Mahakuasa berkehendak lain. Malam tanggal 24 Desember Kang Hidayat sakit keras hingga malamnya 25 Desember meninggal. Maka rencana itu pun makin dikuatkan untuk dilaksanakan pada 16 Januari sebagai upaya untuk mengingat karya almarhum,” kata R Dadi P Danusubrata, Ketua TSK, saat ditemui Tribun di Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang No 1, Bandung, sebelum pementasan dramanya dimulai, Minggu (16/1).

Awalnya Dadi, yang juga menjadi sutradara pementasan Djendral Debel Noe Debil, tak mengira catatan yang ditulis almarhum semasa hidupnya pada akhir naskah itu akan disusul dengan meninggalnya almarhum. Selain itu, kata Dadi, pesan almarhum pada baris kedua terakhir dan yang terakhir dinilainya sebagai bentuk emosional Hidayat semasa hidupnya yang merasa budaya Sunda sudah menipis dan seperti sedang dipotong-potong (Jadi tanda kadeudeuh oge ka Ki Sunda anu keur jadi kicimpring. Disaremplekeun).

“Isi ceritanya tentang kritik sosial yang sedang terjadi pada kehidupan manusia. Drama ini juga menjadi terkesan sebagai ungkapan kekecewaan Kang Hidayat karena Sunda seperti sudah dipotong-potong seperti kicimpring. Kang Hidayat juga keukeuh (sangat ingin) lakon ini dipentaskan karena temanya pas dengan situasi negara kita. Jadi drama ini sarat dengan pesan moral dari setiap kata ke katanya semuanya penuh simbol dan banyak arti,” ujarnya.

Pementasan drama komedi satir yang digelar dua kali pertunjukan, pukul 15.30 dan 19.00 kemarin, itu diawali dengan bunyi perkusi yang bertalu-talu. Beberapa tokoh pemain pun mulai naik ke atas panggung dengan setting Rusia dengan gaya komedi Rusia. Di depan panggung tampak dua pilar yang bergaya Eropa, sementara di sisi kanannya terlihat sebuah meja bar yang menyediakan berbagai macam botol minuman dari Eropa.

Bahkan nama-nama tokoh pemainnya pun banyak memelesetkan nama-nama yang berbau Sunda ke dalam bahasa Rusia. Drama ini menampilkan tokoh Djendral Debel Noe Debil yang diperankan oleh Komara, Djendral Yuri Ruzakov (Agus Sudrajat), Djendral Ivan Eusleum  Ribanov (Dhipa Galuh Purba), Marsekal Victor Kokomanov (Eky Rizky), Komodor Chermot Moyodokorov (Arif Firmansyah), Raja Diogo Diablo (Dodi Eka), Pireupov (Yusuf), Ratu Caucussia (Retno), Pecakov (Abah Oi), Khohkodoksky (Dedi Patah), Nuzumminov (Moel Mge), Varazinov Syusyahrekkaya (Shenny), Plastiksikinanov (Hadian Suto), Madame Ririvakova (Elby), Madame Chermot Moyodokorov (Dini), dan suster (Ai).

Menurut Dadi, drama yang berdurasi 75 menit ini dasar ceritanya tidak absurd. Beda dengan kebanyakan naskah drama lain karya Hidayat yang kebanyakan absurd. Ceritanya yang dikemas secara komedi ini menggambarkan soal berbagai penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Mulai dari banyaknya laki-laki yang menjadi perempuan ataupun sebaliknya sehingga terlihat perkembangan budaya yang menyimpang dari kodrat.

Selain itu, pada dramanya diseritakan pula soal keagresifan budaya luar yang disimbolkan dengan Superman dan Barbie yang seakan memaksa untuk mendapat pengakuan. Bahkan budaya luar itu diperparah dengan serbuan budaya melalui play station dan infotainment. Akibatnya, manusia lupa akan jati dirinya sendiri yang sudah diturunkan dari orang tua mereka.

“Lebih parah lagi pencapaian menuju surga dijalankan sesuai dengan keinginannya sendiri. Dunia dijadikan ladang korupsi, bahkan secara vulgar dan berjemaah. Demokrasi hanya dijadikan kedok untuk menjalankan kebusukan perilakunya. Demi hidup tanpa nurani di antara dua kutub, tak peduli dengan kebusukan perilaku. Bahkan tidak peduli ketika dihadapkan pada kematian. Yang tersisa, hanyalah manusia-manusia tanpa makna,” kata Dadi. (*)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2011 in Pementasan

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.