Geliat Naskah Drama Sunda

R. Dadi P. Danusubrata

Sutradara teater R Dadi P Danusubrata dari Teater Sunda Kiwari atau TSK kerap kali mengeluhkan minimnya naskah drama berbahasa Sunda. Karena itu, demi kebutuhan pergelaran mandiri, Dadi bersama TSK-nya harus bergumul dengan naskah-naskah lama yang telah berkali-kali dipentaskan. Naskah-naskah itu berkutat pada naskah karya RH Hidayat Suryalaga, Wahyu Wibisana, dan Yosep Iskandar.

TSK merupakan kelompok teater modern berbahasa Sunda yang berdiri 16 Januari 32 tahun silam, dibidani antara lain oleh Dadi dan RH Hidayat Suryalaga. Hingga sekarang, TSK masih merupakan barometer teater Sunda modern. Salah satu kegiatannya adalah melaksanakan Pasanggiri Drama Basa Sunda (PDBS) setiap dua tahun sekali sejak 1990.

Dalam karya-karyanya, Hidayat lebih cenderung menulis naskah absurd, di mana tokoh, penokohan, dan setting (ruang dan waktu) kerap tidak pernah ditemui dalam dunia nyata. Kendati demikian, naskah-naskah Hidayat sarat dengan muatan moral, kritik sosial, serta parodi politik yang tengah berlaku saat naskah itu dipergelarkan. Dengan begitu, naskah-naskah Hidayat sangat longgar untuk terus dipentaskan kendati rezim sudah berganti dan kebijakan telah berubah.

Ia berbeda dengan Wahyu yang cenderung memilih bentuk surealis. Tengok saja Tonggeret Banen (1967) dan Tukang Asahan (1978). Keduanya merupakan naskah yang telah beberapa kali dipentaskan TSK. Demikian pula dengan Si Kabayan. Naskah yang diangkat dari farabel Sunda ini seolah mematangkan Wahyu dalam mendulang tema bernuansa klasik. Hal itu kemudian menjadi paralel pada naskah-naskah gending karesmennya, yang cukup gemilang dalam mengetengahkan cerita-cerita buhun. Sebagai catatan, hingga sekarang naskah Wahyu berjudul Tonggeret Banen tampaknya masih merupakan naskah drama basa Sunda yang terbilang sangat bagus.

Penulis naskah drama Sunda, Yosep Iskandar, pada dasarnya memiliki kemiripan dengan Wahyu yang gemar menuliskan naskah pergelaran dengan mengambil setting masa silam. Maka, tengoklah naskahnya yang berjudul Pasunda Bubat yang menceritakan gugurnya Raja Sunda serta Dyah Pitaloka pada abad XIV. Demikian halnya dengan naskah Sri Baduga Maharaja yang mengangkat tokoh Prabu Siliwangi.

Selebihnya, selain menulis naskah drama modern, Yosep pun beberapa kali menulis naskah longser. Salah satu naskahnya, Juag Toed (1985) yang dimainkan oleh Tati Saleh, Aom Kusman, dan Rahmat Hidayat, cukup berhasil menggoyang isu seni pertunjukan teater rakyat pada tahun 1980-an.

Adapun kesamaan dari ketiga penulis naskah drama modern ini adalah sama-sama berkemampuan menulis naskah gending karesmen dengan baik. Terutama Wahyu Wibisana, dia kemudian menggegerkan pada tahun 1960-an lewat garapan monumentalnya, Galunggung Ngadeg Tumenggung.

Di paruh akhir dekade 1980-an, kemudian muncul nama Arthur S Nalan dengan naskah Oleng Panganten. Seperti diketahui, Arthur telah lebih dulu terjun dalam penulisan naskah drama berbahasa Indonesia. Pada dekade 1990-an, naskah-naskah Arthur menjadi langganan yang dipinang TSK untuk dijadikan materi PDBS. Maka, lahirlah naskah-naskah Sorabi Legendaris, Kapelet ku Supermarket, atau Kasur Butut.

Setelah era Arthur, muncul pula nama-nama lain seperti Teddy AN Muhtadin (Pasaran), Enang Rokajat Asura (Mega-Mega), Dede Sukmadi Dukat (Talaga Warna), Eddy D Iskandar (Repeh-Ripuh), Rin Candraresmi (Satutas Pukul Dua Welas), Darpan (Nagaramaca), dan Nunu Nazarudin Azhar (Blor dan Cangkilung). Untuk nama terakhir, tampaknya TSK cukup menggantungkan harapan lewat naskah-naskah terbaiknya. Di dunia sastra Sunda, Nunu pun termasuk penyair serta prosais yang sangat menjanjikan.

Adaptasi

Minimnya naskah drama berbahasa Sunda memang tidak saja dikeluhkan oleh TSK. Kelompok-kelompok teater yang tersebar hampir di seluruh Jawa Barat pun terimbas apa yang dirasakan TSK. Sebut saja Tepass Unpad, Teater Lakon UPI, Teater Citraresmi Unwim, Teater Asap Ujungberung, Teater Lorong Subang, Hidraga Garut, dan lain-lain.

Untuk satu pementasannya pada 1993, Tepass Unpad sempat mengadaptasi naskah cerpen Gadis Penyanyi Koor karya Anton Chekov guna dijadikan naskah drama. Karya tersebut diadaptasi Teddy AN Muhtadin menjadi Sinden. Demikian pula dengan Teater Lakon UPI, tahun 1995 menyulap carita pondok (carpon) Buah Limus Murag ku Angin karya Karna Yudibrata untuk dijadikan naskah drama. Selain itu, jauh sebelumnya, kelompok teater dari UPI (dulu IKIP) itu pernah beberapa kali mengadaptasi carpon karya Godi Suwarna untuk dijadikan naskah drama.

Pengadaptasian carpon menjadi naskah drama sesungguhnya merupakan kerja kreatif juga. Di situ terdapat proses kecerdasan saat mengalihkan tokoh dan penokohan serta setting untuk diimpresikan pada kebutuhan naskah drama. Itu pula yang pada 1988 dilakukan Arthur terhadap naskah Impian di Tengah Musim karya William Shakespeare menjadi naskah Oleng Panganten, atau Hidayat terhadap naskah Julius Caesar yang juga ditulis William Shakespeare.

Akhir-akhir ini, pengarang Rosyid E Abby kepincut menerjemahkan naskah drama bahasa Indonesia untuk diserahkan kepada TSK sebagai materi naskah PDBS. Terakhir, Rosyid menerjemahkan naskah Akal Bulus Scapin karya Moliere menjadi Akalna Si Apin.

“Pasanggiri”

Selain adaptasi dari satu genre sastra ke dalam naskah drama, tentu saja kegiatan pasanggiri (lomba) mengarang drama basa Sunda menjadi alternatif lain yang mengundang proses kreatif lebih nyata. Hal itu telah dilakukan Paguyuban Pasundan pada 1996. Sebelas tahun setelah itu, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS) melakukan hal serupa. Baik Paguyuban Pasundan maupun PPSS dalam melaksanakan tugas mulianya itu bekerja sama dengan TSK.

Tahun 1996, Paguyuban Pasundan mengukuhkan naskah Blor karya Nunu sebagai naskah terbaik. Naskah tersebut telah dipentaskan di panggung teater oleh TSK dan sempat ditayangkan di TVRI. Tampaknya sastrawan Nunu saat ini tengah memanen buah kreatif terbaiknya setelah naskah miliknya, Jeblog, dinobatkan pula sebagai naskah terbaik pada pasanggiri naskah drama PPSS.

Dari kegiatan pasanggiri mengarang naskah drama PPSS yang pemenangnya diumumkan Oktober 2007, selain mengukuhkan naskah karya Nunu, dewan juri pun memilih naskah Rorongo (Arma Djunaedi), Badog (Dhipa Galuh Purba), dan Randu Jalaprang (Tatang Sumarsono) menjadi naskah terpilih dan berhak disertakan dalam PDBS TSK bulan Februari 2008. Dengan begitu, sedikitnya ada empat naskah drama basa Sunda terbaru yang oleh TSK dinyatakan layak dipergelarkan. Percaturan naskah drama Sunda pun mulai menggeliat.

Pendulangan naskah drama melalui pasanggiri tentu saja akan membantu pengayaan naskah drama berbahasa Sunda. Kegiatan pasanggiri yang konsisten juga akan mampu memupus keluhan Dadi bersama TSK-nya, atau kelompok-kelompok teater lainnya, yang sempat limbung mencari-cari naskah yang layak untuk dipresentasikan kepada penonton. Maka, lewat pasanggiri, kini telah lahir penulis naskah drama basa Sunda yang bisa dijadikan tumpuan harapan. Selamat berkiprah.

Oleh Dian Hendrayana

Moel Mge, “Rumentang Adalah Rumah Saya”

Kang Moel

BAGI kalangan dan komunitas kesenian di Bandung, nama Moel Mge selalu identik dengan Gedung Kesenian Rumentang Siang. Gedung bekas bioskop Rivoli yang terletak di Jalan Baranangsiang, di tengah suasana yang hiruk-pikuk. Setiap hari, lelaki gondrong dan selalu memakai pakaian hitam-hitam ini bisa dengan mudah ditemui di Rumentang Siang. Dalam ruang lampu yang pengap, dikelilingi berbagai kabel dan peralatan tata lampu yang sudah tua dan berdebu, ia dengan cermat terus menatap ke arah pentas. Mengatur cahaya lampu agar sesuai dengan emosi dan adegan pertunjukan. Pekerjaan yang sudah dilakukannya sejak tahun 1980-an.

Setiap orang mengenal Moel Mge sebagai orang yang mudah dan enak diajak bicara. Terutama tentang teater, apalagi ihwal Rumentang Siang. Di Rumentang Siang, perjalanannya sebagai aktor teater juga terbentuk. Bersama Teater Sunda Kiwari, entah telah berapa ratus naskah yang telah dimainkannya, juga bersama Studiklub Teater Bandung (STB). Akan tetapi, lebih dari itu, Moel adalah sosok yang mengikuti benar perjalanan denyut Rumentang Siang ketika gedung kesenian itu memiliki sugestinya di mata para seniman hingga ketika gedung itu kini tampak merana dan kehilangan pamor masa lalunya.

Banyak soal dan sebab mengapa yang dimiliki Rumentang Siang kini hanya tinggal masa lalu. Bukan hanya karena banyaknya tempat lain di Bandung sebagai ruang seni. Akan tetapi, dalam pandangan Moel karena kondisi internalnya sendiri. Lebih jauh tentang Rumentang Siang dan kesetiaannya untuk terus bertahan di situ, berikut wawancara bersama lelaki kelahiran Desa Tundagan Kab. Kuningan 9 Februari 1951 ini.

Kapan Anda mulai aktif di Rumentang Siang?

Tahun ’80-an. Saya aktif di Teater Sunda Kiwari dan sering ke Rumentang Siang, seperti anak-anak sekarang. Waktu itu saya sering ngobrol dengan Kang Aris Permana. Lantas saya ditawari jadi tukang menata lampu. Karena saya pikir tak ada salahnya, juga sambil belajar, tawaran itu saya ambil. Akhirnya saya masuk jadi karyawan Rumentang dan diberi SK sampai sekarang, jadi penata lampu dan kepala urusan persiapan tata pentas. Akhirnya, tanpa sengaja tugas saya sebagai penata lampu malah sekarang jadi profesi. Banyak kelompok atau grup teater minta tolong pada saya untuk menata lampu pertunjukannya, sekaligus juga stage-manager. Dan, rupanya ini ada juga kenikmatannya. Saya merasa terlibat dalam pertunjukan itu.

Bisa Anda ceritakan sedikit tentang peran Rumentang dalam kehidupan kesenian di Bandung ketika itu?

Begini, tahun 1970, Teater Sunda Kiwari mau mentas sekali dan yang kedua susah sekali. Dulu ada semacam seleksi bagi kelompok teater yang ingin tampil di Rumentang. Yang menyeleksi Kang Aris dan staf Rumentang. Proses penyeleksiannya tidak langsung dikatakan bahwa kelompok itu tak layak pentas, tetapi disarankan agar latihan lagi, sampai benar-benar siap. Nah, sekarang proses penyeleksian itu tidak ada.

Tahun 1980-an Rumentang itu sangat penting dan berwibawa yah?

Ya, pada periode itu Rumentang sangat berwibawa. Kelompok-kelompok teater seperti Teater Sangsaka pimpinan Bambang Budi Asmara (alm.) juga muncul. Belum lagi STB, Kiwari, ATPU. Di Rumentang juga ketika itu tampil teater-teater terkenal seperti Teater Mandiri Putu Wijaya, Teater Koma, juga Ikranagara, dan banyak lagi. Pokoknya ketika itu Rumentang Siang memang sedang jaya, apalagi ketika itu aktivitas teater di Bandung sangat dinamis. Remy Sylado sering tampil di Rumentang Siang meski dengan gaya mbelingnya. Nah, sekarang banyak sekali kelompok teater tapi garapan mereka, yah, begitu saja. Maksud saya, penuh dengan teater pernyataan yang sifatnya politis.

Ini yang membedakan semangat berkesenian generasi 1980-an dengan sekarang?

Ya. Kalau dulu, bagi para seniman, teater adalah jiwaku. Dulu, selalu ada rasa bangga menjadi orang teater yang diikuti semangat untuk belajar, baik skill sebagai aktor maupun mengisi wawasan terutama kebudayaan. Nah, di anak-anak sekarang, saya perhatikan, hal-hal itu tidak ada. Nilai juang mereka sangat kurang dan lebih dominan gagah-gagahannya. Misalnya begini, meski ini tidak semua, kalau latihan kelihatan sekali bagaimana malasnya mereka. Dulu, latihan itu penuh semangat sehingga mereka cepat matang. Ya, sekarang mungkin banyak hal yang harus diperhitungkan, misalnya, ongkos dan lain-lain.

**

Dibandingkan tahun 1980-an tampak Rumentang makin kehilangan wibawanya sebagai gedung kesenian. Menurut Anda kenapa sebabnya?

Ya. Yang namanya pamor selalu harus dibentuk dari dalam (internal). Salah satu faktor lenyapnya pamor Rumentang Siang adalah tidak adanya lagi proses penyeleksian kelompok teater yang akan tampil. Belum lagi adanya ruang-ruang kesenian yang lain di Bandung. Akan tetapi, Rumentang Siang punya sejumlah kelebihan, bukan hanya karena sudah punya sejarah dan sudah dikenal, tetapi juga letaknya yang strategis, dan masih diperlukan. Meski ini gedung butut, tetapi tampak penonton lebih familiar, juga dengan suasana. Oleh karena itu, menurut saya, kalau Rumentang Siang ingin mengembalikan pamor kejayaannya seperti dulu harus ada pembenahan dari dalam, yaitu pembenahan dalam proses penyeleksian untuk mereka yang akan tampil di Rumentang Siang.

Bukankah dalam manajemen baru Rumentang tahun 2003 dulu disebutkan ada Dewan Kurator yang bertugas menyeleksi?

Kelihatannya realisasinya belum sampai ke situ. Belum sampai pada bagaimana materi seleksinya, tetapi lebih memikirkan kondisi fisik gedung.

Dibandingkan tahun 1980-an, bagaimana sih perhatian pemerintah sekarang pada Rumentang Siang?

Waktu tahun-tahun 1980-an perhatian masih ada. Begini saja, walaupun sedikit gaji karyawan tetap ada dan rutin, tidak telat. Nah, sekarang gaji karyawan hanya mengandalkan dari uang sewa gedung. Semua berubah sejak resesi ekonomi tahun 1998.

Selain aktor, penata lampu, dan panggung, Anda dikenal sebagai penyair.

Ya, dulu, sebelum saya aktif di teater saya banyak menulis sajak. Lulus SMEA saya suka sekali dengan dunia tulis-menulis. Seorang teman lantas menyarankan agar saya mengirimkan sajak-sajak saya ke Pikiran Rakyat, rubrik “Pertemuan Kecil” asuhan Saini KM. Ternyata sekali ngirim dimuat dan jadi ketagihan dan makin semangat. Nah, sekarang saya merasa tidak lagi punya mood untuk menulis dan saya tidak ingin memaksakan.

Pertama terlibat dan aktif di teater?

Tahun 1975, di Teater Sunda Kiwari. Memang waktu itu saya sering nongkrong di YPK dengan kelompoknya Remy Sylado. Akan tetapi, saya tidak ikut terlibat dalam proses produksi mereka karena saya merasa kurang cocok. Saya juga waktu itu sering nonton teater ke Rumentang Siang dan selalu membayangkan suatu kali saya main di panggung itu dan ternyata memang itu terwujud, bahkan saya jadi karyawan di Rumentang Siang.

Kenapa sih Anda kok betah di Rumentang?

Ya, saya betah di sini. Prinsip saya, saya harus punya rumah sendiri dan soal menjelajah ke ruang-ruang lain nanti saja berkunjung. Bagi saya, selain Teater Sunda Kiwari, rumah saya adalah Rumentang Siang. Kalau saya ingin main, saya bisa berkunjung ke sana ke mari, tetapi tetap saja saya harus pulang ke rumah saya ini, Rumentang Siang. Jadi, soalnya adalah soal identitas. Tidak bisa seorang seniman terus menjelajah dan tidak jelas identitasnya. Nah, ini akan jadi kelemahannya. Lihat saja di Bandung, di kelompok teater ini ada aktor itu, lantas dia ada juga kelompok teater yang lain. Bukan tidak boleh, tetapi dia itu di mana sebenarnya?

Sebagai orang yang sehari-hari di sini, bagaimana sih kondisi Rumentang sekarang?

Ya, bisa kita lihat. Secara fisik gedung kesenian ini harus benar-benar dibenahi. Ruangan, kursi, sound system, dan lampu yang sudah tua. Bukan kami ingin gaya, tetapi kami ingin melayani kelompok-kelompok teater sebaik-baiknya. Tapi kalau peralatannya kayak begini, bagaimana? Lampu sangat perlu karena ini adalah gedung teater. Bayangkan, kami sampai harus pakai lampu taman! Ada yang besar, tetapi bohlam sudah tidak ada.

Gaji Anda sebulan hanya Rp 400.000,00 sebulan. Boleh tahu bagaimana Anda menutupi kekurangannya untuk biaya hidup?

Ya, inilah yang saya tidak tahu. Memang rada-rada aneh. Kalau dihitung-hitung tentu tidak cukup, tetapi kenapa bisa cukup. Mungkin ada tambahan dari sana-sini.

Tidak punya keinginan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dari ini?

Saya selalu berpikir, kalau kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, pertanyaannya di mana peluangnya? Kalau belum ada peluangnya, saya tidak memaksakan. Jadi, baiknya saya terima dan saya syukuri saja dulu yang ada.

Sampai kapan Anda akan bertahan di Rumentang?

Kayaknya sampai saya bosan. Ya, mau bagaimana lagi, di tempat lain pun saya merasa tidak akan betah. Di sini saya merasa bebas. Bukan hanya jadi karyawan, tetapi juga tidak terganggu dalam berkesenian.

Ngomong-ngomong, berkesenian itu apa sih buat Anda?

Ya, kalau dulu mungkin buat gagah-gagahan, tetapi sekarang, makin lama makin terpikir bahwa dalam kesenian banyak hal yang saya dapat. Sekarang saya merasa jadi seniman itu makin berat. Kayak dai yang tukang dakwah, perilaku seniman juga harus bener. Jangan menyampaikan pesan-pesan moral dalam karyanya, tetapi kelakuannya tidak begitu. (Ahda Imran)***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.