Minim, Penulis Naskah Drama Sunda
14 Februari 2009 5 Komentar

ilustrasi menulis naskah
BANDUNG, JUMAT–Penulis naskah drama berbahasa Sunda ditantang membuat karya baru yang sesuai dengan pengalaman hidup masyarakat Indonesia dan Jawa Barat saat ini. Saat ini, kebanyakan naskah drama Sunda merupakan karya lama dan sering kali tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat. Demikian dikatakan penulis naskah drama Sunda, Hidayat Suryalaga, seusai menyaksikan pementasan drama yang diambil dari naskah ciptaannya, Tambang Tambang Tambang 2009, di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Kota Bandung, Rabu (11/2) malam. Pentas drama ini dibawakan Teater Sunda Kiwari dengan sutradara Dadi Danusubrata. Pentas digelar dalam peringatan ulang tahun ke-68 Hidayat Suryalaga. Menurut Hidayat, saat ini sebagian besar pementasan drama Sunda masih menggunakan naskah lama. Konteks cerita sering tidak sesuai dengan kondisi masyarakat kini. Hal ini, menurut dia, sangat memprihatinkan karena sebenarnya banyak permasalahan sosial masyarakat yang bisa diangkat. Oleh karena itu, ia mengajak penulis Sunda berusia muda mengasah kreativitas membuat naskah drama Sunda. Ia yakin, dengan visi dan kepekaan pada lingkungan sekitar, tidak sulit membuat naskah baru yang relevan dan sesuai dengan usia penulis. “Selain menghasilkan karya pementasan drama, munculnya banyak pilihan cerita bisa memperkaya dan melestarikan khazanah sastra Sunda,” katanya. Menurut Dadi Danusubrata, berkurangnya minat penulis naskah drama Sunda disebabkan jarangnya pementasan drama Sunda. Hal ini membuat penulis enggan membuat karya baru karena pesimistis naskahnya bisa dipentaskan. Selain itu, kini banyak penulis muda yang cenderung memilih membuat naskah sinetron atau menulis cerpen. Selain relatif bernilai ekonomi, pembuatannya pun lebih mudah menyesuaikan dengan minat masyarakat. “Harus diakui, membuat naskah drama Sunda tidak mudah. Dalam drama, konsep apresiatif yang dimiliki naskah harus kuat. Pementasan drama hanya dilakukan di satu panggung dengan dekorasi seadanya dan tidak ada istilah bersambung,” katanya. Hal yang sama dikatakan Pupuhu Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda Etti RS. Menurut dia, minimnya pementasan drama membuat banyak penulis naskah Sunda semakin sedikit. Penulis naskah mengerti, dana yang harus dikeluarkan untuk sekali pementasan sangat besar. Setidaknya dalam satu kali pementasan harus dikeluarkan Rp 10 juta. “Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mendorong semua pihak untuk mendukung atau menggelar perlombaan penulisan naskah Sunda. Setidaknya menarik minat penulis naskah untuk kembali berkarya, katanya. (CHE)
Sumber : Kompas Cetak
Jumat, 13 Februari 2009 | 19:36 WIB





Pesan dan Kesan