Minim, Penulis Naskah Drama Sunda

ilustrasi menulis naskah

ilustrasi menulis naskah

BANDUNG, JUMAT–Penulis naskah drama berbahasa Sunda ditantang membuat karya baru yang sesuai dengan pengalaman hidup masyarakat Indonesia dan Jawa Barat saat ini. Saat ini, kebanyakan naskah drama Sunda merupakan karya lama dan sering kali tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat. Demikian dikatakan penulis naskah drama Sunda, Hidayat Suryalaga, seusai menyaksikan pementasan drama yang diambil dari naskah ciptaannya, Tambang Tambang Tambang 2009, di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Kota Bandung, Rabu (11/2) malam. Pentas drama ini dibawakan Teater Sunda Kiwari dengan sutradara Dadi Danusubrata. Pentas digelar dalam peringatan ulang tahun ke-68 Hidayat Suryalaga. Menurut Hidayat, saat ini sebagian besar pementasan drama Sunda masih menggunakan naskah lama. Konteks cerita sering tidak sesuai dengan kondisi masyarakat kini. Hal ini, menurut dia, sangat memprihatinkan karena sebenarnya banyak permasalahan sosial masyarakat yang bisa diangkat. Oleh karena itu, ia mengajak penulis Sunda berusia muda mengasah kreativitas membuat naskah drama Sunda. Ia yakin, dengan visi dan kepekaan pada lingkungan sekitar, tidak sulit membuat naskah baru yang relevan dan sesuai dengan usia penulis. “Selain menghasilkan karya pementasan drama, munculnya banyak pilihan cerita bisa memperkaya dan melestarikan khazanah sastra Sunda,” katanya. Menurut Dadi Danusubrata, berkurangnya minat penulis naskah drama Sunda disebabkan jarangnya pementasan drama Sunda. Hal ini membuat penulis enggan membuat karya baru karena pesimistis naskahnya bisa dipentaskan. Selain itu, kini banyak penulis muda yang cenderung memilih membuat naskah sinetron atau menulis cerpen. Selain relatif bernilai ekonomi, pembuatannya pun lebih mudah menyesuaikan dengan minat masyarakat. “Harus diakui, membuat naskah drama Sunda tidak mudah. Dalam drama, konsep apresiatif yang dimiliki naskah harus kuat. Pementasan drama hanya dilakukan di satu panggung dengan dekorasi seadanya dan tidak ada istilah bersambung,” katanya. Hal yang sama dikatakan Pupuhu Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda Etti RS. Menurut dia, minimnya pementasan drama membuat banyak penulis naskah Sunda semakin sedikit. Penulis naskah mengerti, dana yang harus dikeluarkan untuk sekali pementasan sangat besar. Setidaknya dalam satu kali pementasan harus dikeluarkan Rp 10 juta. “Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mendorong semua pihak untuk mendukung atau menggelar perlombaan penulisan naskah Sunda. Setidaknya menarik minat penulis naskah untuk kembali berkarya, katanya. (CHE)

Sumber : Kompas Cetak

Jumat, 13 Februari 2009 | 19:36 WIB

5 Tanggapan untuk Minim, Penulis Naskah Drama Sunda

  1. because mengatakan:

    drama sunda lucu2

  2. because mengatakan:

    teater sunda aralus euy.

  3. syarief mengatakan:

    Assalamualaikum,…..

  4. kosmayadi mengatakan:

    Sampurasuuuun….
    Emh, matak ngangres.
    Ka marana atuh seuweu-siwi Ki Sunda?
    Hayu urang paheuyeuk-heuyeuk leungeun, babarengan sabilulungan, malahmandar Ki Sunda teh cenghar deui tur jagjag waringkas.

    Manawi aya nu haat maparin pituduh, naskah anu kumaha anu diperyogikeun ku teater Sunda kiwari?
    Sim Kuring hoyong diajar nulis

    Cag..

  5. Irvan Mulyadie mengatakan:

    Sim kuring ngintun naskah drama sunda via e-mail ka alamat teater_sundakiwari@yahoo.com.
    Mudah2an katampi kalayan salamet.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.