RSS

Bukti Pengabdian Teater Sunda Kiwari

05 Mei

Saat itu, 20 April 2008. Telepon di genggaman Ketua Kelompok Diskusi Kota Bandung Kidul (KDKKB), Iip D Yahya, berdering. Setelah mengobrol beberapa menit, si penelpon memberi tahu bahwa rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yang diajukan untuk Teater Sunda Kiwari (TSK) sebagai pelaksana Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) terlama ditetapkan.

Senyuman berkembang. Pada tanggal 23 April, rombongan TSK dan pemerhati kebudayaan Sunda berangkat mengambil piagam MURI tersebut. Bagi TSK, piagam itu merupakan kejutan. Karena, selama ini, mereka tidak pernah mengajukan rekor MURI.

Rekor itu rupanya diajukan oleh empat komunitas yang ada di Bandung, yakni KDKKB, Rumah Baca Buku Sunda, Paguyuban Panglawungan Sastra Sunda (PPSS), dan Yayasan Perceka. ”Kami sama sekali tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk rekor MURI ini,” ungkap Iip.

Keempat komunitas ini menilai dedikasi TSK dalam pengembangan dan pelestarian bahasa Sunda begitu besar. Makanya, TSK layak diajukan untuk memperoleh MURI. Rupanya, penilaian itu tidak salah. Karena saat memberikan penghargaan, Manajer MURI, Paulus Pangka, mengatakan prestasi TSK adalah rekor dunia. Karena festival drama dalam bahasa lokal adalah peristiwa yang langka.

Menurut catatan, festival sejenis di seluruh dunia paling lama digelar dalam dua hari. Itupun hanya mementaskan dua pertunjukkan dalam satu hari. Namun, FDBS digelar selama 20 hari berturut-turut dengan lima pementasan setiap harinya. Itu membuktikan bahasa Sunda masih hidup.

”Bagi kami bukan jumlah harinya yang menggembirakan, tapi jumlah peserta dan penonton yang memukau,” ujar Ketua TSK, Dadi P Danusubrata, beberapa waktu lalu di Bandung. Semakin lama pihaknya menggelar pertunjukkan, maka biaya yang harus dikeluarkan untuk sewa gedung, sarana prasarana, konsumsi, operasional, dan lainnya juga akan semakin membengkak. ”Kami bakalan ketar-ketir, padahal panitia saja tidak dibayar sama sekali,” tutur dia.

Persoalan besar yang selalu dihadapi TSK adalah pendanaan. Untuk melaksanakan pagelaran selama 20 hari, TSK hanya mengantongi uang Rp 160 juta. Jumlah itu tidak rasional untuk melaksanakan pagelaran sepanjang itu. Pihaknya sudah mengajukan pendanaan ke pemda, namun hanya diberi Rp 16 juta. Saat itu, Kadisbudpar Jabar, I Budhyana, mengatakan TSK terlalu baik saat mengajukan proposal, sehingga ia pun lupa dengan proposal yang diajukan.

Dalam perbincangan itu, Dadi sempat memukul meja. Namun ia tidak terlalu memusingkan perhatian pemerintah yang sebenarnya sangat kurang untuk kemajuan bahasa sunda. Dengan dana yang minim, acara dua tahunan ini tetap dilaksanakan dengan maksimal.

Dadi melihat, FDBS tak hanya menjadi ajang kumpulnya orang teater yang memainkan skenario dalam bahasa sunda. FDBS dinilainya juga menjadi cara efektif untuk melestarikan bahasa sunda. Ia mencontohkan, satu grup teater akan mempelajari naskah selama minimal sebulan. Selama praktik itu, mereka akan terus berbicara dengan bahasa sunda.

Saat pertunjukan dihelat, mereka pun ikut menghidupkan bahasa sunda. Orang terdekat pemain atau pecinta bahasa sunda akan menyaksikan penampilan mereka. Maka, secara tidak langsung, orang tersebut akan belajar bahasa sunda.

Selama 20 hari pertunjukan, gedung kesenian Rumentang Siang tidak pernah sepi. Jika dikalkulasikan secara kasar, penonton yang terlibat lebih dari 3.500 orang. Jumlah itu dihitung dari kapasitas gedung sebanyak 350 orang dikali lima pementasan sehari dikali 20 hari. Bahkan dari pantauan Republika terlihat, pengunjung yang hadir dalam setiap pemerintasan selalu melebihi kapasitas gedung.

Pemandangan itu seolah mematahkan anggapan bahasa sunda sudah mati. Menurut Dadi, sejak TSK berdiri tahun 1975, wacana terancamnya bahasa sunda sudah muncul. Suara itu banyak didengungkan oleh pejabat dan akademisi. Namun sayangnya, pejabat maupun akademisi jarang turun ke lapangan sehingga tidak tahu fenomena di lapangan. ”Alhamdulillah, saat FDBS kemarin pun pejabat hanya hadir pas pembukaan,” ungkap dia.

TSK lahir pada 1975 dengan pementasan bahasa sunda. Kelompok teater ini lahir sebagai upaya untuk melestarikan budaya lokal di kalangan kaum muda. Awalnya teater ini hanya bergerak di tingkat karang taruna, tapi lama-kelamaan TSK pun dikenal lebih luas di perguruan tinggi.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 5 Mei 2008 in Profile Teater Sunda Kiwari

 

Tag:

One response to “Bukti Pengabdian Teater Sunda Kiwari

  1. Badruzzaman silau

    27 Juli 2011 at 2:46 am

    punten,
    mau minta naskah drama “budah si narko” tolong di tanggapi permintaannya, makasih,
    wassalamualaikum wr wb.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: