RSS

Moel Mge, “Rumentang Adalah Rumah Saya”

06 Mei

Kang Moel

BAGI kalangan dan komunitas kesenian di Bandung, nama Moel Mge selalu identik dengan Gedung Kesenian Rumentang Siang. Gedung bekas bioskop Rivoli yang terletak di Jalan Baranangsiang, di tengah suasana yang hiruk-pikuk. Setiap hari, lelaki gondrong dan selalu memakai pakaian hitam-hitam ini bisa dengan mudah ditemui di Rumentang Siang. Dalam ruang lampu yang pengap, dikelilingi berbagai kabel dan peralatan tata lampu yang sudah tua dan berdebu, ia dengan cermat terus menatap ke arah pentas. Mengatur cahaya lampu agar sesuai dengan emosi dan adegan pertunjukan. Pekerjaan yang sudah dilakukannya sejak tahun 1980-an.

Setiap orang mengenal Moel Mge sebagai orang yang mudah dan enak diajak bicara. Terutama tentang teater, apalagi ihwal Rumentang Siang. Di Rumentang Siang, perjalanannya sebagai aktor teater juga terbentuk. Bersama Teater Sunda Kiwari, entah telah berapa ratus naskah yang telah dimainkannya, juga bersama Studiklub Teater Bandung (STB). Akan tetapi, lebih dari itu, Moel adalah sosok yang mengikuti benar perjalanan denyut Rumentang Siang ketika gedung kesenian itu memiliki sugestinya di mata para seniman hingga ketika gedung itu kini tampak merana dan kehilangan pamor masa lalunya.

Banyak soal dan sebab mengapa yang dimiliki Rumentang Siang kini hanya tinggal masa lalu. Bukan hanya karena banyaknya tempat lain di Bandung sebagai ruang seni. Akan tetapi, dalam pandangan Moel karena kondisi internalnya sendiri. Lebih jauh tentang Rumentang Siang dan kesetiaannya untuk terus bertahan di situ, berikut wawancara bersama lelaki kelahiran Desa Tundagan Kab. Kuningan 9 Februari 1951 ini.

Kapan Anda mulai aktif di Rumentang Siang?

Tahun ’80-an. Saya aktif di Teater Sunda Kiwari dan sering ke Rumentang Siang, seperti anak-anak sekarang. Waktu itu saya sering ngobrol dengan Kang Aris Permana. Lantas saya ditawari jadi tukang menata lampu. Karena saya pikir tak ada salahnya, juga sambil belajar, tawaran itu saya ambil. Akhirnya saya masuk jadi karyawan Rumentang dan diberi SK sampai sekarang, jadi penata lampu dan kepala urusan persiapan tata pentas. Akhirnya, tanpa sengaja tugas saya sebagai penata lampu malah sekarang jadi profesi. Banyak kelompok atau grup teater minta tolong pada saya untuk menata lampu pertunjukannya, sekaligus juga stage-manager. Dan, rupanya ini ada juga kenikmatannya. Saya merasa terlibat dalam pertunjukan itu.

Bisa Anda ceritakan sedikit tentang peran Rumentang dalam kehidupan kesenian di Bandung ketika itu?

Begini, tahun 1970, Teater Sunda Kiwari mau mentas sekali dan yang kedua susah sekali. Dulu ada semacam seleksi bagi kelompok teater yang ingin tampil di Rumentang. Yang menyeleksi Kang Aris dan staf Rumentang. Proses penyeleksiannya tidak langsung dikatakan bahwa kelompok itu tak layak pentas, tetapi disarankan agar latihan lagi, sampai benar-benar siap. Nah, sekarang proses penyeleksian itu tidak ada.

Tahun 1980-an Rumentang itu sangat penting dan berwibawa yah?

Ya, pada periode itu Rumentang sangat berwibawa. Kelompok-kelompok teater seperti Teater Sangsaka pimpinan Bambang Budi Asmara (alm.) juga muncul. Belum lagi STB, Kiwari, ATPU. Di Rumentang juga ketika itu tampil teater-teater terkenal seperti Teater Mandiri Putu Wijaya, Teater Koma, juga Ikranagara, dan banyak lagi. Pokoknya ketika itu Rumentang Siang memang sedang jaya, apalagi ketika itu aktivitas teater di Bandung sangat dinamis. Remy Sylado sering tampil di Rumentang Siang meski dengan gaya mbelingnya. Nah, sekarang banyak sekali kelompok teater tapi garapan mereka, yah, begitu saja. Maksud saya, penuh dengan teater pernyataan yang sifatnya politis.

Ini yang membedakan semangat berkesenian generasi 1980-an dengan sekarang?

Ya. Kalau dulu, bagi para seniman, teater adalah jiwaku. Dulu, selalu ada rasa bangga menjadi orang teater yang diikuti semangat untuk belajar, baik skill sebagai aktor maupun mengisi wawasan terutama kebudayaan. Nah, di anak-anak sekarang, saya perhatikan, hal-hal itu tidak ada. Nilai juang mereka sangat kurang dan lebih dominan gagah-gagahannya. Misalnya begini, meski ini tidak semua, kalau latihan kelihatan sekali bagaimana malasnya mereka. Dulu, latihan itu penuh semangat sehingga mereka cepat matang. Ya, sekarang mungkin banyak hal yang harus diperhitungkan, misalnya, ongkos dan lain-lain.

**

Dibandingkan tahun 1980-an tampak Rumentang makin kehilangan wibawanya sebagai gedung kesenian. Menurut Anda kenapa sebabnya?

Ya. Yang namanya pamor selalu harus dibentuk dari dalam (internal). Salah satu faktor lenyapnya pamor Rumentang Siang adalah tidak adanya lagi proses penyeleksian kelompok teater yang akan tampil. Belum lagi adanya ruang-ruang kesenian yang lain di Bandung. Akan tetapi, Rumentang Siang punya sejumlah kelebihan, bukan hanya karena sudah punya sejarah dan sudah dikenal, tetapi juga letaknya yang strategis, dan masih diperlukan. Meski ini gedung butut, tetapi tampak penonton lebih familiar, juga dengan suasana. Oleh karena itu, menurut saya, kalau Rumentang Siang ingin mengembalikan pamor kejayaannya seperti dulu harus ada pembenahan dari dalam, yaitu pembenahan dalam proses penyeleksian untuk mereka yang akan tampil di Rumentang Siang.

Bukankah dalam manajemen baru Rumentang tahun 2003 dulu disebutkan ada Dewan Kurator yang bertugas menyeleksi?

Kelihatannya realisasinya belum sampai ke situ. Belum sampai pada bagaimana materi seleksinya, tetapi lebih memikirkan kondisi fisik gedung.

Dibandingkan tahun 1980-an, bagaimana sih perhatian pemerintah sekarang pada Rumentang Siang?

Waktu tahun-tahun 1980-an perhatian masih ada. Begini saja, walaupun sedikit gaji karyawan tetap ada dan rutin, tidak telat. Nah, sekarang gaji karyawan hanya mengandalkan dari uang sewa gedung. Semua berubah sejak resesi ekonomi tahun 1998.

Selain aktor, penata lampu, dan panggung, Anda dikenal sebagai penyair.

Ya, dulu, sebelum saya aktif di teater saya banyak menulis sajak. Lulus SMEA saya suka sekali dengan dunia tulis-menulis. Seorang teman lantas menyarankan agar saya mengirimkan sajak-sajak saya ke Pikiran Rakyat, rubrik “Pertemuan Kecil” asuhan Saini KM. Ternyata sekali ngirim dimuat dan jadi ketagihan dan makin semangat. Nah, sekarang saya merasa tidak lagi punya mood untuk menulis dan saya tidak ingin memaksakan.

Pertama terlibat dan aktif di teater?

Tahun 1975, di Teater Sunda Kiwari. Memang waktu itu saya sering nongkrong di YPK dengan kelompoknya Remy Sylado. Akan tetapi, saya tidak ikut terlibat dalam proses produksi mereka karena saya merasa kurang cocok. Saya juga waktu itu sering nonton teater ke Rumentang Siang dan selalu membayangkan suatu kali saya main di panggung itu dan ternyata memang itu terwujud, bahkan saya jadi karyawan di Rumentang Siang.

Kenapa sih Anda kok betah di Rumentang?

Ya, saya betah di sini. Prinsip saya, saya harus punya rumah sendiri dan soal menjelajah ke ruang-ruang lain nanti saja berkunjung. Bagi saya, selain Teater Sunda Kiwari, rumah saya adalah Rumentang Siang. Kalau saya ingin main, saya bisa berkunjung ke sana ke mari, tetapi tetap saja saya harus pulang ke rumah saya ini, Rumentang Siang. Jadi, soalnya adalah soal identitas. Tidak bisa seorang seniman terus menjelajah dan tidak jelas identitasnya. Nah, ini akan jadi kelemahannya. Lihat saja di Bandung, di kelompok teater ini ada aktor itu, lantas dia ada juga kelompok teater yang lain. Bukan tidak boleh, tetapi dia itu di mana sebenarnya?

Sebagai orang yang sehari-hari di sini, bagaimana sih kondisi Rumentang sekarang?

Ya, bisa kita lihat. Secara fisik gedung kesenian ini harus benar-benar dibenahi. Ruangan, kursi, sound system, dan lampu yang sudah tua. Bukan kami ingin gaya, tetapi kami ingin melayani kelompok-kelompok teater sebaik-baiknya. Tapi kalau peralatannya kayak begini, bagaimana? Lampu sangat perlu karena ini adalah gedung teater. Bayangkan, kami sampai harus pakai lampu taman! Ada yang besar, tetapi bohlam sudah tidak ada.

Gaji Anda sebulan hanya Rp 400.000,00 sebulan. Boleh tahu bagaimana Anda menutupi kekurangannya untuk biaya hidup?

Ya, inilah yang saya tidak tahu. Memang rada-rada aneh. Kalau dihitung-hitung tentu tidak cukup, tetapi kenapa bisa cukup. Mungkin ada tambahan dari sana-sini.

Tidak punya keinginan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih dari ini?

Saya selalu berpikir, kalau kita ingin mendapatkan sesuatu yang lebih, pertanyaannya di mana peluangnya? Kalau belum ada peluangnya, saya tidak memaksakan. Jadi, baiknya saya terima dan saya syukuri saja dulu yang ada.

Sampai kapan Anda akan bertahan di Rumentang?

Kayaknya sampai saya bosan. Ya, mau bagaimana lagi, di tempat lain pun saya merasa tidak akan betah. Di sini saya merasa bebas. Bukan hanya jadi karyawan, tetapi juga tidak terganggu dalam berkesenian.

Ngomong-ngomong, berkesenian itu apa sih buat Anda?

Ya, kalau dulu mungkin buat gagah-gagahan, tetapi sekarang, makin lama makin terpikir bahwa dalam kesenian banyak hal yang saya dapat. Sekarang saya merasa jadi seniman itu makin berat. Kayak dai yang tukang dakwah, perilaku seniman juga harus bener. Jangan menyampaikan pesan-pesan moral dalam karyanya, tetapi kelakuannya tidak begitu. (Ahda Imran)***

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 6 Mei 2008 in Opini Publik

 

Tag:

3 responses to “Moel Mge, “Rumentang Adalah Rumah Saya”

  1. triya

    20 Januari 2009 at 12:52 am

    kang moel adalah salahsatu seniman sejati di teater sunda kiwari. Hidup kang moel!!!!

     
  2. yanie

    3 April 2009 at 12:53 am

    kang moel aduh mei kangen garapan sareng akang by yani kiwari di kalimantan

     
  3. asep rahman

    16 Agustus 2012 at 6:01 am

    mugia cing sehat salawasna kang,,,salam kenal wae ti abdi ASEP RAHMAN(astahiam) ti sanggar WALIWIS nu di sesepuhan ku abah SUKMARAGA

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: