RSS

Suksesi Ala “Dalem Kuwung-Kuwung”

12 Des

KANJENG Dalem (Bupati) Kuwung-kuwung (Moel Mge) merasa heran dengan segala tuduhan yang menimpa dirinya bahwa ia berlaku tidak adil terhadap rakyat yang dipimpinnya, korup, dan sebagainya. Karena itu, ia layak diganti.

dsc00334

OPANG Sang Kopral tak sanggup duduk di kursi panas saat ditunjuk menjadi kanjeng dalem dalam longser Sunda “Harewos Goib” di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Bandung, Selasa (30/8)

Kabar miring bahwa jabatannya sebagai dalem akan segera berakhir ternyata sudah beredar luas di kalangan masyarakat dan para petinggi di Kadaleman Kuwung-kuwung. Merebaknya kabar cukup merisaukan hatinya itu, pada satu sisi ternyata telah menimbulkan berbagai konflik dan kepentingan, yang berjalan di luar akal sehat di lingkungan Kadaleman Kuwung-kuwung.
Konflik itu secara sengit justru muncul di kalangan sejumlah juag demang (istri camat), yang merasa yakin bahwa suami mereka adalah orang yang paling pantas menjadi dalem di Kadaleman Kuwung-kuwung.
Jika unsur humor menjadi sesuatu yang dominan dalam lakon Harewos Goib, karena hal ini memang sangat dimungkinkan oleh adegan-adegan yang disajikan secara komikal, terutama secara memikat bisa kita lihat pada peran Opang (Komeng Komara) yang memegang rol cerita.
Opang yang bertugas sebagai upas di Kadaleman Kuwung-kuwung ini adalah orang yang blak-blakan. Dia dengan polos dan lugu berani mengkritik atasannya dengan cara yang penuh canda dan kadang serius pula.
Ketika Dalem Kuwung-kuwung mencopot pakaian dan tanda kepangkatannya — untuk dipakai oleh Opang, apakah dirinya pantas jadi dalem atau tidak, nyatanya Opang tidak sanggup. Demikian juga para demang dan para petinggi lainnya di Kadaleman Kuwung-kuwung, ramai-ramai menolaknya sambil menyatakan, pihaknya tidak sanggup jadi dalem.
Pola longser
Dalam pentas kali ini, Teater Sunda Kiwari menggarap lakon Harewos Goib dengan memadukan unsur-unsur teater modern dan teater tradisional. Dari teater tradisional, ia mengambil pola garapan yang bersumber pada longser. Hal ini antara lain bisa kita lihat dari adanya cempor dengan tiga sumbu, yang berkaki sebatang bambu, yang panjangnya sekira 1,7 meter. Cempor tersebut disimpan di tengah-tengah panggung pertunjukan. Selain itu, ada juga tabuhan awal dan ronggeng, serta kawih yang ditampilkan pada saat pergantian adegan, di samping adanya dialog interaktif antara pemain dan pangrawit serta dengan penonton secara spontan.
Adegan pertama dibuka dengan masuknya sejumlah pemain ke atas panggung, yang duduk di belakang pangrawit (penabuh alat musik). Setelah itu lalu para pangrawit yang terdiri dari empat orang penabuh saron, dua orang penabuh bonang, seorang penabuh goong, dan seorang penabuh kendang, mulai tatalu yang kemudian disusul dengan adegan menyalakan cempor sebagai tanda pertunjukan dimulai.
Setelah cempor dinyalakan sebagai tanda dimulainya denyut kehidupan di atas pentas, yang sering disebut sebagai realitas pentas atau atmosfer teater itu, masuklah empat ronggeng dengan tarian jaipong yang terkenal dengan geol, gitek, dan goyang. Setelah itu, masuklah empat penari laki-laki yang mengusung sebuah tandu. Di atas tandu itu duduk Dalem Kuwung-kuwung (Moel Mge). Adegan ini mengingatkan kita pada pola tarian Sisingaan dari Subang.
“Bertaut pada akar tradisi itulah pola garapan yang saya pakai kali ini. Longser menjadi penting untuk dihidupkan kembali karena pada kenyataannya kesenian ini nyaris punah. Pola-pola yang saya pakai dari longser ini hanya bajunya. Tidak murni longser. Apa sebab? Karena di dalam pertunjukan ini ada unsur-unsur teater modernnya, seperti adanya naskah, pola pengadegan yang seluruh permainannya disajikan di atas panggung, tata lampu, dan sebagainya. Sedangkan pertunjukan longser seharusnya digelar di lapangan terbuka, semacam teater arena!” jelas R. Dadi P. Danusubrata, Sutradara Teater Sunda Kiwari. (Soni Farid Maulana/”PR”)***

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Desember 2008 in Rubrik Peristiwa

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: