RSS

FDBS dan Anggaran yang Dicoret

27 Jan

diskusiSEBUAH paradoks terjadi dalam kebijakan kesenian di Jawa Barat. Di tengah tingginya semangat Pemerintah Provinsi Jabar untuk mengangkat potensi budaya dan bahasa Sunda, Festival Drama Basa Sunda (FDBS) yang telah berlangsung selama dua puluh tahun justru tidak mendapat perhatian. Padahal, jumlah patandang (peserta) dari tahun ke tahun terus meningkat dan datang dari berbagai kota/kabupaten di seluruh Jabar.

Bahkan, hingga dua bulan menjelang penyelenggaraan FDBS XI bulan Maret 2009 mendatang, perhatian itu masih belum ada. Inilah yang dipertanyakan sekaligus disayangkan oleh sejumlah seniman, budayawan, dan pengamat budaya Sunda. Padahal, FDBS merupakan bukti yang bisa menjawab kecemasan segelintir elite yang suka sekali menyebut-nyebut bahwa budaya dan bahasa Sunda terancam punah. Melalui FDBS-lah bisa terlihat antusiasme anak-anak muda terhadap budaya dan bahasa Sunda.

Selain itu, FDBS sebenarnya bisa menjadi bagian dari pendidikan budaya dan bahasa Sunda. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk mendukung dan memperhatikan festival yang diselenggarakan oleh Teater Sunda Kiwari ini. Pandangan itu muncul dalam diskusi “FDBS Sebagai Media Pendidikan Budaya Sunda” di Aula Redaksi HU Pikiran Rakyat, Kamis (21/1), dengan menampilkan pembicara dosen STSI Bandung Arthur S. Nalan, Godi Suwarna (seniman), dan Dhipa Galuh Purba (seniman).

“Kegiatan yang mulia dan meriah ini selalu luput dari perhatian dan para tokoh pemerintah. Untuk urusan dana, misalnya, FDBS masih bergantung pada kebaikan hati perseorangan, belum jadi kebijakan pemerintahan dalam APBD,” kata Godi Suwarna yang sejak tahun 1990 setia menjadi salah seorang juri FDBS.

MINIMNYA perhatian pemerintah terhadap penyelenggaraan FDBS menjadi sorotan tajam para peserta diskusi. Dhipa Galuh Purba memandang sebenarnya FDBS merupakan salah satu aplikasi nyata dari pelajaran bahasa Sunda dan seni budaya. Selain itu, FDBS bisa menjadi peluang dalam pelaksanaan Perda No. 5 Tahun 2003 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah. Terlebih lagi, FDBS merupakan festival yang telah berlangsung secara berkesinambungan, meski harus babak belur dalam biaya operasionalnya.

“Di tengah kondisi semacam itulah sempat tersiar kabar rencana Pemprov Jabar menggarap film ’Perang Bubat’ dengan biaya Rp 6 miliar. Membayangkan biaya operasional FDBS dan anggaran film ’Perang Bubat’ bagaikan cicak dan dinosaurus. Tetapi cicak tampak lebih realistis dan tetap hidup, sedangkan dinosaurus nyatanya cuma geledug ces,” ujar Dhipa.

Sedangkan Agam menawarkan pemikiran agar FDBS tidak melulu bergantung pada pemerintah. Akan tetapi mencoba melakukan manajemen jaringan dengan berbagai komunitas industri kreatif yang di Bandung sehingga festival ini bisa bersinergi dengan berbagai bidang.

“Membangun manajerial networking juga tak kalah pentingnya. Di samping juga terus mengingatkan dan menggedor pemerintah,” kata Agam.

Sementara Dadi P. Danubrata dari Teater Sunda Kiwari menjelaskan kondisi terakhir persiapan penyelenggaraan FDBS XI bulan Maret 2010 mendatang. Peserta yang sudah terdaftar mencapai 69 grup teater. Namun, hingga hari ini panitia belum punya persiapan apa pun. Respons dari pihak Disparbud Jabar belum ada, meski mereka telah mengajukan proposal.

“Saya dengar anggaran buat FDBS dicoret. Tetapi oleh Disparbud kami diminta lagi mengajukan proposal yang katanya akan langsung diajukan ke gubernur. Tetapi sampai sekarang belum ada kabarnya. Juga pernah kami diminta untuk membuat surat permohonan audiensi dengan Kadisparbud Jabar. Tetapi sejak kami ajukan bulan Desember 2009, sampai sekarang juga tak ada kabarnya,” ujar Dadi. (Ahda Imran)***

 
3 Komentar

Ditulis oleh pada 27 Januari 2010 in Uncategorized

 

Tag:

3 responses to “FDBS dan Anggaran yang Dicoret

  1. mobil88

    27 Januari 2010 at 6:01 pm

    Tulisan anda sangat bermanfaat, teruslah menulis !!
    http://mobil88.wordpress.com

     
  2. andi pujianto

    10 Januari 2011 at 3:47 am

    ass…………………………….
    sampurasun

    hapunten nu kasuhun,, abdi perwakilan ti sanggar seni simpay yogyakarta,, bade naroskeun kaset CD FDBS 2010 nu saur na parantos di kintunkeun tapi teu acan sumping wae ka yogyakarta. parantos beuheung sosonggeteun barudak yogya ngantosan nana,,,,

    Haturnuhun perhatosana

    wasalam

    andi pujianto

     
  3. teatersundakiwari

    10 Januari 2011 at 1:28 pm

    Neda dihapunten…pamugi tiasa ngirimkeun alamat lengkepna ka email teater_sundakiwari@yahoo.com, insya Allah upami tos ka pendak arsipna langsung dikintun kaditu…sakantenan Teater Sunda Kiwari seja ngulem kasumpingannana dina gelaran produksi Drama Djendral Debel Nu Debil naskah : H.R. Hidayat Suryalaga, Sutradara : R. Dadi P. Danusubrata kaping 16 Januari 2011 tabuh 15.30 sareng 19.00 WIB tempat GK. Rumentang Siang Bandung…Hatur Nuhun.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: