RSS

Hidayat, Wafat Setelah Tuntaskan Karya Terakhir

10 Jan

Minggu, 25 December 2010

BANDUNG(SINDO) – Budayawan senior Jawa Barat, Hidayat Suryalaga wafat pada hari Sabtu (25/12) pukul 00.17 WIB.

Hidayat wafat hanya selang satu bulan setelah menuntaskan karyanya, saritilawah Alquran juz ke-30 yang ditulis dalam bentuk karya sastra nadloman dengan judul karya, Nurul Hikmah. Seperti dituturkan Riza D. Suryalaga, anak ketiga almarhum. Sejak tahun 1984, almarhum mulai menyusun saritilawah Alquran seluruh juz ke dalam karya sastra berbentuk pupuh yang bisa dilantunkan dalam tembang Sunda Cianjuran. Karya itu dikenal dengan sebutan Nur Hidayahan yang dikelola oleh Yayasan Nur Hidayah.

Tuntas menyusun Nur Hidayahan, berlanjut pada penyusunan karya yang dinamakan Nurul Hikmah. Yang merupakan sebuah saritilawah Al Quran yang juga dalam bahasa Sunda tetapi dalam bentuk nadloman agar bisa dilantunkan oleh masyarakat luas. Menurutnya Nur Hidayahan hanya bisa dilantunkan oleh orang yang memiliki skill tembang Sunda Cianjuran, sedangkan Nurul Hikmah bisa dilantunkan oleh siapapun, bahkan anak-anak. ”Bapak wafat satu bulan setelah menuntaskan Nurul Hikmah ini.Tetapi tulisannya belum sempat dibukukan,” tutur Riza usai pemakaman, di TPU Sukaasih,RT 05/06,Kelurahan Sindangjaya, Kecamatan Mandalajati Kota Bandung, kemarin.

Riza mengaku cukup menaruh apresiasi setelah Universitas Pasundan Bandung berjanji menyanggupi penerbitan karya Nurul Hikmah tersebut dalam bentuk buku. Hal itu ditegaskan Rektor Unpas,Didi Turmudzi.”Ini sebagai bagian bentuk penghormatan kami terhadap sosok Hidayat Suryalaga yang telah memebrikan dedikasi nyata terhadap dakwah Islamiyah serta perkembangan sastra dan budaya Sunda,”tegas Didi, di rumah duka. Kondisi kesehatan almarhum mulai menurun akibat menderita penyakit liver. Bahkan pada tahun 2007 lalu sempat mendapat perawatan di rumahsakit. Namun,Hidayat yang dinilai sebagai orang yang workerholic itu, jarang mengeluhkan penyakitnya. Bahkan, dalam keadaan sakit pun Hidayat tak pernah berhenti berkarya.

Amanat terakhir dari Hidayat beberapa saat sebelum wafat agar anak cucunya senantiasa memelihara pegangan keislaman serta kesundaan. Hidayat menekankan Sunda harus diisi dengan nilai keislaman. Dia tidak memandang sunda islam atau islam sunda,karena keduanya berbeda. ”Agama itu dari Allah, sementara sunda lahir dari pemikiran manusia,”katanya. Wafatnya Hidayat bagi kalangan budayawan dan seniman,adalah kehilangan besar. Almarhum dinilai sebagai sosok budayawan Sunda yang cukup fenomenal. Seperti yang disampaikan Ketua Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda, Us Tiarsa.Menurutnya,dia adalah budayawan yang telah berhasil ”mengawinkan” antara Sunda dan Islam. Begitu pula karya-karya naskah drama berbahasa Sundanya.

”Lebih dari 30 naskah dramanya berbentuk absurd,lebih absurddari karya Putu Wijaya,” katanya. Politisi senior Jawa Barat,Tjetje Hidayat Padmadinata mengatakan, beberapa hari sebelum meninggal dunia, dia mengaku telah melihat tanda-tanda kepergian Hidayat. Dalam sebuah pertemuan, Hidayat tiba-tiba mengungkapkan pemikirannya secara tegas. ”Dia mengatakan bahwa 50 tahun ke depan Sunda masih ada, tetapi entah bagaimana bentuknya,” tutur Tjetje. Hidayat wafat di usianya yang ke-69, satu bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-70 pada 16 Januari mendatang.Dia dilahirkan di Banjarsari, Jawa Barat pada tanggal 16 januari 1941.Penyakit liver yang dideritanya telah membawa Hidayat ke tampat peristirahatannya yang terakhir.

Budayawan senior itu meninggalkan istri serta enam putra-putri, di rumahsakit Santo Yusuf Bandung setelah mendapat perawatan sejak Jumat (24/12) sore. Rumah duka di Jalan Sukaasih Atas V No 348,RT 05/06,Kelurahan Sindangjaya, Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung dipenuhi oleh keluarga, kerabat, pejabat pemerintah serta kalangan budayawan. Bahkan,karangan bunga pun terlihat berjajar di sekitar rumah duka yang dikirim dari berbagai lembaga dan perorangan. Setelah disholatkan, sekitar pukul 12.30 WIB, jenazah kemudian disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya di TPU Sukaasih.

Dipentaskan Teater Sunda Kiwari

Sementara itu,dua naskah drama berjudul Jenderal Debel Nu Debil dan Muntangan Alif karya Hidayat Suryalaga rencananya akan dipentaskan Teater Sunda Kiwari,16 Januari 2011 nanti. Kedua naskah tersebut merupakan karya terakhir Hidayat sebelum wafat, yang belum sempat dipentaskan. Ketua Teater Sunda Kiwari, Dadi P Danusubrata mengatakan, rencana awal kedua naskah itu akan dipentaskan kemarin, tetapi karena masih ada kekurangan pada segi penggarapan, maka pementasannya disepakati untuk diundur hingga tanggal 16 Januari mendatang yang bertepatan dengan hari ulang tahun Hidayat ke-70. Namun, belum sampai pada realisasi rencana, Hidayat meninggal dunia akibat sakit liver akut yang dideritanya.

”Batalnya pementasan pada tanggal 25 itu malah jadi pertanda bahwa beliau akan berpulang ke Rohmatulloh,” ungkap Dadi di rumah duka, Jalan Sukaasih Atas V, RT 05/06, Kelurahan Sindangjaya,Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung, kemarin.

(atep abdillah kurniawan)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 10 Januari 2011 in Rubrik Peristiwa

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: