RSS

Djendral Debel Noe Debil Bentuk Kekesalan Hidayat

18 Jan

Ieu naskah keur Teater Sunda Kiwari.
Muga-muga lain naskah drama anu pamungkas.
Ma’lum awak geus mimiti impeu.
Jadi tanda kadeudeuh oge ka Ki Sunda anu keur jadi kicimpring.
Disaremplekeun.

UNTAIAN kalimat di atas merupakan pesan atau catatan yang dituliskan RH Hidayat Suryalaga di akhir naskah drama Sunda karyanya yang berjudul Djendral Debel Noe Debil. Catatan seperti itu memang selalu dituangkannya pada setiap naskah drama karya. Namun pada naskah itu mulai ada pernyataan yang mengharapkan bukan sebagai naskah drama terakhir.

Naskah itu pun diberikan kepada Teater Sunda Kiwari (TSK) pada November 2010 dengan harapan bisa segera dipentaskan. Saat itu juga TSK merencanakan dan menyiapkan latihan untuk mementaskannya pada 25 Desember 2010. Namun dalam proses persiapannya, TSK menilai belum siap untuk dipentaskan pada 25 Desember 2010. Pementasan itu pun dimundurkan menjadi 16 Januari 2011, yang bertepatan dengan ulang tahun Teater Sunda Kiwari, yang bersamaan pula dengan tanggal kelahiran Hidayat Suryalaga.

“Tapi Yang Mahakuasa berkehendak lain. Malam tanggal 24 Desember Kang Hidayat sakit keras hingga malamnya 25 Desember meninggal. Maka rencana itu pun makin dikuatkan untuk dilaksanakan pada 16 Januari sebagai upaya untuk mengingat karya almarhum,” kata R Dadi P Danusubrata, Ketua TSK, saat ditemui Tribun di Gedung Kesenian (GK) Rumentang Siang, Jalan Baranangsiang No 1, Bandung, sebelum pementasan dramanya dimulai, Minggu (16/1).

Awalnya Dadi, yang juga menjadi sutradara pementasan Djendral Debel Noe Debil, tak mengira catatan yang ditulis almarhum semasa hidupnya pada akhir naskah itu akan disusul dengan meninggalnya almarhum. Selain itu, kata Dadi, pesan almarhum pada baris kedua terakhir dan yang terakhir dinilainya sebagai bentuk emosional Hidayat semasa hidupnya yang merasa budaya Sunda sudah menipis dan seperti sedang dipotong-potong (Jadi tanda kadeudeuh oge ka Ki Sunda anu keur jadi kicimpring. Disaremplekeun).

“Isi ceritanya tentang kritik sosial yang sedang terjadi pada kehidupan manusia. Drama ini juga menjadi terkesan sebagai ungkapan kekecewaan Kang Hidayat karena Sunda seperti sudah dipotong-potong seperti kicimpring. Kang Hidayat juga keukeuh (sangat ingin) lakon ini dipentaskan karena temanya pas dengan situasi negara kita. Jadi drama ini sarat dengan pesan moral dari setiap kata ke katanya semuanya penuh simbol dan banyak arti,” ujarnya.

Pementasan drama komedi satir yang digelar dua kali pertunjukan, pukul 15.30 dan 19.00 kemarin, itu diawali dengan bunyi perkusi yang bertalu-talu. Beberapa tokoh pemain pun mulai naik ke atas panggung dengan setting Rusia dengan gaya komedi Rusia. Di depan panggung tampak dua pilar yang bergaya Eropa, sementara di sisi kanannya terlihat sebuah meja bar yang menyediakan berbagai macam botol minuman dari Eropa.

Bahkan nama-nama tokoh pemainnya pun banyak memelesetkan nama-nama yang berbau Sunda ke dalam bahasa Rusia. Drama ini menampilkan tokoh Djendral Debel Noe Debil yang diperankan oleh Komara, Djendral Yuri Ruzakov (Agus Sudrajat), Djendral Ivan Eusleum  Ribanov (Dhipa Galuh Purba), Marsekal Victor Kokomanov (Eky Rizky), Komodor Chermot Moyodokorov (Arif Firmansyah), Raja Diogo Diablo (Dodi Eka), Pireupov (Yusuf), Ratu Caucussia (Retno), Pecakov (Abah Oi), Khohkodoksky (Dedi Patah), Nuzumminov (Moel Mge), Varazinov Syusyahrekkaya (Shenny), Plastiksikinanov (Hadian Suto), Madame Ririvakova (Elby), Madame Chermot Moyodokorov (Dini), dan suster (Ai).

Menurut Dadi, drama yang berdurasi 75 menit ini dasar ceritanya tidak absurd. Beda dengan kebanyakan naskah drama lain karya Hidayat yang kebanyakan absurd. Ceritanya yang dikemas secara komedi ini menggambarkan soal berbagai penyimpangan yang terjadi dalam kehidupan sekarang ini. Mulai dari banyaknya laki-laki yang menjadi perempuan ataupun sebaliknya sehingga terlihat perkembangan budaya yang menyimpang dari kodrat.

Selain itu, pada dramanya diseritakan pula soal keagresifan budaya luar yang disimbolkan dengan Superman dan Barbie yang seakan memaksa untuk mendapat pengakuan. Bahkan budaya luar itu diperparah dengan serbuan budaya melalui play station dan infotainment. Akibatnya, manusia lupa akan jati dirinya sendiri yang sudah diturunkan dari orang tua mereka.

“Lebih parah lagi pencapaian menuju surga dijalankan sesuai dengan keinginannya sendiri. Dunia dijadikan ladang korupsi, bahkan secara vulgar dan berjemaah. Demokrasi hanya dijadikan kedok untuk menjalankan kebusukan perilakunya. Demi hidup tanpa nurani di antara dua kutub, tak peduli dengan kebusukan perilaku. Bahkan tidak peduli ketika dihadapkan pada kematian. Yang tersisa, hanyalah manusia-manusia tanpa makna,” kata Dadi. (*)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Januari 2011 in Pementasan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: